Harga Minyak Mentah Jatuh Lagi di Bawah 30 Dolar AS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja membongkar kapal bermuatan minyak sawit mentah (crude palm oil) di Pelabuhan Cilincing, Jakarta, 18 Januari 2016. Harga CPO bergerak menguat pada perdagangan Senin (18/1/2016) di bursa komoditas Malaysia hingga menyentuh level Rp7,68juta/ton. TEMPO/Tony Hartawan

    Pekerja membongkar kapal bermuatan minyak sawit mentah (crude palm oil) di Pelabuhan Cilincing, Jakarta, 18 Januari 2016. Harga CPO bergerak menguat pada perdagangan Senin (18/1/2016) di bursa komoditas Malaysia hingga menyentuh level Rp7,68juta/ton. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga minyak mentah kembali jatuh di bawah 30 dolar AS per barel di perdagangan Asia, Selasa, 26 Januari 2016 karena kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global mengemuka kembali.

    Setelah terjun ke posisi terendah dalam 12 tahun, harga minyak mentah melonjak akhir pekan lalu, di tengah harapan bahwa rencana untuk langkah-langkah stimulus ekonomi lebih lanjut di zona euro dan Jepang akan meningkatkan permintaan.

    Tetapi reli itu melempem pada Senin akibat berlanjutnya kekhawatiran tentang kelebihan pasokan.

    Pada sekitar pukul 06.25 GMT, patokan AS minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret, turun 91 sen atau 3,0 persen menjadi diperdagangkan pada 29,43 dolar AS per barel.

    Sementara, minyak mentah Brent untuk penyerahan Maret anjlok 1,14 dolar AS atau 3,74 persen menjadi diperdagangka di 29,36 dolar AS per barel.

    WTI merosot 5,7 persen dan Brent menurun 5,2 persen pada Senin.

    "Penurunan ini tidak terlalu mengejutkan karena fundamental minyak masih tetap lemah," kata Daniel Ang, analis Phillip Futures di Singapura.

    "Kami sedang melihat kelebihan pasokan yang kuat dan permintaan tidak begitu luar biasa," katanya, seperti dilaporkan AFP.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.