Menkominfo, Kilau Media Online dan Senjakala Media Cetak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Komunikasi & Informatika Rudiantara menanggapi hasil pemaparan ITB Innovation Park dan balon Helion di Lembaga Pengembangan Inovasi & Kewirausahaan ITB, Bandung, Jawa Barat, 8 Januari 2016. TEMPO/Prima Mulia

    Menteri Komunikasi & Informatika Rudiantara menanggapi hasil pemaparan ITB Innovation Park dan balon Helion di Lembaga Pengembangan Inovasi & Kewirausahaan ITB, Bandung, Jawa Barat, 8 Januari 2016. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COJakarta - Media online kini telah makin berkembang di masyarakat. Lewat Internet, mereka tak hanya merebut minat pembaca, tapi juga pengiklan media cetak. "Inilah yang kita sadari sebagai senjakala media cetak," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam acara Icon 2016 di Jakarta, Selasa, 26 Januari 2016.

    Indikator kemajuan media online, menurut Rudiantara, adalah moncernya kinerja keuangan perusahaan-perusahaan pelakunya. "Lihat saja neraca mereka yang sudah terbuka di bursa," kata pria yang pernah berkarier di Indosat, Telkomsel, Excelcomindo (kini XL Axiata) hingga Telkom ini.

    Rudiantara memakluminya. Dibanding media cetak, media digital unggul dari segi penyajian. Dengan membuka satu laman berita digital, konsumen bisa membaca teks, melihat foto, bahkan menonton video. Jika ingin berinteraksi, komentar mereka bisa seketika tersaji dan mendapat respons. 

    Kemudahan-kemudahan itu tentu juga menarik bagi pengiklan. Saat ini akan makin banyak mengiklan menyasar media digital. "Bagi pengiklan, media online menawarkan kemudahan, dari segi penempatan sampai pembayaran," ujarnya.

    Hal ini diakui oleh Ari Fadyl, Kepala Bidang Transformasi dan Inovasi AXA Indonesia. Sebab, di media digital, peran iklan sebagai penggiring konsumen potensial lebih efektif. Tinggal mencantumkan link, dengan satu klik, calon konsumen bisa masuk ke laman atau aplikasi perusahaan. "Ini penting sebab untuk membeli asuransi, misalnya, orang perlu diyakinkan dengan penjelasan atau bahkan pengalaman," katanya.

    "Pengalaman" yang dimaksud Ari, misalnya, menyediakan tes online untuk mencari bakat anak dan menemukan sekolah yang sesuai, hingga pada akhirnya para orang tua kepincut membeli asuransi pendidikan. Ia telah membuktikan efektivitasnya. "Kami baru mulai terjun di digital 2 tahun lalu, dan sekarang sudah ada antara 7-8 juta nasabah datang dari channel tersebut."

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.