Kusrin, Perakit TV Lulusan SD, Bertemu Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Muhammad Kusrin, 37 Tahun, memperlihatkan televisi hasil rakitannya, di riumahnya di Karanganyar, Semarang, Jawa Tengah, 14 Januari 2016. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Muhammad Kusrin, 37 Tahun, memperlihatkan televisi hasil rakitannya, di riumahnya di Karanganyar, Semarang, Jawa Tengah, 14 Januari 2016. TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.COJakarta - Presiden Joko Widodo mengundang Muhammad Kusrin, perakit televisi asal Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ke Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 25 Januari 2016.

    Presiden Jokowi didampingi Menteri Perindustrian Saleh Husin menerima kedatangan penerima penghargaan Sertifikat Produk Penggunaan Tanda-Standar Nasional Indonesia (SPPT-SNI) Cathode Ray Tube TV itu di Istana Merdeka sekitar pukul 09.00. Setelah acara itu, Presiden akan melakukan kunjungan kerja ke Bali dan Timor Leste.

    Menteri Perindustrian memberikan penghargaan SPPT-SNI kepada Muhammad Kusrin di Jakarta pada 19 Januari 2016. Inovasi IKM UD Haris Elektronika dengan produk TV buatannya dinyatakan lolos uji di B4T dan berhak mendapatkan sertifikat SNI.

    "SNI ini untuk tiga merek TV saya, Veloz, Zener, dan Maxreen. Semua sama, yang membedakan hanya warna untuk memberikan pilihan bagi konsumen," kata Kusrin.

    Kusrin, 37 tahun, setiap hari memproduksi 150 unit televisi dengan harga jual Rp 400-500 ribu per unit yang didistribusikan di Karesidenan Solo sampai Yogyakarta. "Saya senang, sudah plong dan lega. Apalagi mengurus sertifikat SNI ini mudah dan murah, dan sekarang saya dapat fokus kembali bekerja," ujar Kusrin.

    Penerapan SNI dilakukan berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.