BI: Inflasi Pekan Ketiga Januari Masih Tinggi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat berdiskusi di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 11 November 2015. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat berdiskusi di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 11 November 2015. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memperkirakan tingkat inflasi pada minggu ketiga Januari 2016 sebesar 0,75 persen. Menurut dia, besar inflasi itu masih konsisten pada dua minggu sebelumnya. "Sumbernya volatilitas harga bahan. Cabai merah dan daging ayam juga menjadi tekanan," kata Agus di kantornya, Jumat, 22 Januari 2016.

    Agus menilai tingkat inflasi itu tergolong tinggi. Ia menyebutkan harga komoditas sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya inflasi. Sebab, ada pajak pertambahan nilai yang dibebankan terhadap harga-harga komoditas tersebut.  

    Kenaikan inflasi diperkirakan masih akan terjadi sekitar dua bulan ke depan. Namun Agus menuturkan akan berkomitmen menjaga tingkat inflasi agar sesuai dengan target. "Kami konsisten menjaga undang-undang pajak," ucapnya.

    Agus menyebutkan sektor penerimaan negara pada 2016 masih menjadi perhatian Bank Indonesia. Apalagi, mendekati Lebaran pada semester pertama, ia berkomitmen menjaga likuiditas agar tercukupi dan tingkat inflasi sesuai dengan target.  

    Agus menjelaskan, pada semester pertama biasanya sudah ada kewajiban pembayaran pajak. Nah, ketika pemerintah menarik pajak dan anggaran pembiayaan belum dicairkan optimal, likuiditas berisiko terganggu. Bank Indonesia dalam hal ini akan tetap menjaga likuiditas, seperti kebijakan lelang deposit berdasarkan kajian dari rapat Dewan Gubernur BI.

    DANANG FIRMANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.