Stabilkan Harga, Bulog Gelontorkan 4 Ribu Sapi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sapi impor diturunkan dari kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Juni 2014. TEMPO/Tony Hartawan

    Sapi impor diturunkan dari kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Juni 2014. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan pihaknya menstabilkan lonjakan harga daging sapi melalui operasi pasar. "Kami menggunakan sisa stok 4 ribu ekor sapi untuk melakukan operasi pasar," kata Djarot, Jumat, 22 Januari 2016.

    Djarot mengatakan operasi pasar itu difokuskan untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Alasannya, 70 persen konsumsi daging sapi nasional berada di wilayah Jakarta. Dan wilayah Ibu Kota ini dianggap paling terpengaruh dengan lonjakan harga dibanding daerah-daerah lainnya. Operasi pasar ini dimaksudkan untuk menurunkan harga daging sapi setelah ada lonjakan harga akibat kebijakan mengenakan PPN sapi.

    Menurut Djarot, dalam operasi pasar, Bulog menjual sapi dengan harga Rp 40-41 ribu per kilogram sapi hidup. Dalam bentuk karkas, harga daging sapi itu Rp 82 ribu per kilogram. Sehingga di tingkat konsumen harga daging sapi Bulog sekitar Rp 100 ribu per kilogram.

    Djarot mengakui, penggelontoran 4 ribu ekor sapi itu relatif kecil. Apalagi kebutuhan sapi untuk Jakarta adalah 2 ribu ekor per hari. "Aduh, sebenarnya saya juga malu sebab itu kecil sekali dibanding kebutuhan," kata Djarot. Karena itulah, penggelontoran tidak dilakukan sekaligus 4 ribu ekor sapi, tapi bertahap.

    Persoalan lonjakan daging sapi ini, kata Djarot, harus dicarikan solusi permanen. Dia mencontohkan Jakarta dengan tingkat konsumsi 70 persen daging sapi secara nasional. Padahal, wilayah Ibu Kota ini tidak mempunyai peternakan dan sangat tergantung pada pasokan sapi dari daerah lain atau sapi impor.

    Di sisi lain, ketentuan pemotongan sapi impor harus dilakukan dalam waktu 120 hari. Sebab, sapi-sapi impor itu harus digemukan dulu selama empat bulan. "Saya ada pemikiran apakah ketentuan penggemukan 120 hari itu sebaiknya dikurangi untuk mengantisipasi lonjakan harga," kata Djarot.

    Bila pemangkasan waktu penggemukan tidak bisa dilakukan, Djarot meminta prediksi analisis dan kebijakan mengenai pasokan dan kebutuhan daging sapi hari ini harus bisa dilakukan empat bulan sebelumnya.

    AMIRULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.