IMF Prediksi Ekonomi Dunia Turun, Ini Antisipasi Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat berdiskusi di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 11 November 2015. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat berdiskusi di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 11 November 2015. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    TEMPO.COJakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, berdasarkan prediksi Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi dunia turun dari 3,6 menjadi 3,4 persen. "Penurunan itu karena pelemahan (ekonomi) di negara berkembang," kata dia di kantornya, Jumat, 22 Januari 2016.  

    Menurut Agus, negara-negara berkembang berkontribusi 70 persen terhadap perekonomian dunia. Cina, pada kuartal IV, mengeluarkan perhitungan yang menyebut pertumbuhannya pada satu tahun ini sebesar 6,9 persen. Kontribusi ekonomi Cina pada sektor jasa lebih baik dibanding manufaktur.

    Namun Agus meyakini komitmen fiskal untuk pencairan anggaran sejak awal tahun berpengaruh baik terhadap ekonomi Indonesia. Pada Januari ini, sudah ada aliran dana dari luar negeri ke Indonesia sebesar Rp 5 triliun year-to-date. Meski ada penurunan dibanding tahun lalu, yaitu Rp 14 triliun, pada periode yang sama, Agus optimistis jumlah itu akan meningkat.  

    Adapun kondisi nilai mata uang rupiah, menurut Agus, terdepresiasi sebesar 0,93 persen year-to-date. Pada tahun lalu, secara keseluruhan, rupiah terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 11 persen. Ia menilai depresiasi itu masih tergolong baik dibanding di negara berkembang lain, seperti Turki dan Brasil.  

    Agus juga mengaku sudah mengantisipasi sektor likuiditas agar tetap memadai. Jika pemerintah mengeluarkan Surat Utang Negara, hal itu akan menarik sektor likuiditas. Jika pemerintah menyalurkan dana bagi hasil ke daerah dalam bentuk Surat Utang Negara, hal itu akan mengurangi likuiditas pada Bank Pembangunan Daerah (BPD). Sebab, daerah biasa menempatkan dananya ke BPD. Bank sentral, kata dia, akan berupaya menjaga transaksi penyaluran kredit bisa memadai.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.