Penjualan Furnitur Alami Tantangan Berat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Furniture Rosewood di Pondok Indah Mall, Jakarta, 8 April 2015. TEMPO/Nurdiansah

    Furniture Rosewood di Pondok Indah Mall, Jakarta, 8 April 2015. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Penjualan furnitur di Semarang tahun ini diperkirakan cenderung stagnan meski masih terdapat potensi terjadinya pertumbuhan.

    Pemilik perusahaan furnitur Rumah Kita, Jimmy Jati Utomo, mengatakan pertumbuhan penjualan sebesar 20 persen tahun ini lebih didorong peningkatan harga jual. "Kalau dari jumlah barang yang dijual, mungkin tidak banyak berubah. Kami berharap, pertumbuhan bisa mencapai 30 persenan seiring dengan perbaikan ekonomi," ujarnya di sela Pameran Rumah Kita di Mal Ciputra, Semarang.

    Dia menjabarkan, pada semester II/2015, penjualan furnitur mengalami penurunan sekitar 15-25 persen dibanding semester sebelumnya. Meski demikian, secara tahunan, penjualan tahun lalu masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 30 persen.

    "Penyebabnya banyak. Salah satunya penyerapan APBN yang lambat, yang akhirnya berpengaruh juga ke bisnis ini. Sulit untuk growth. Selain itu, kompetisi juga sangat ketat. Sebagian kecil perusahaan sudah meningkatkan harga jual sekitar 15-20 persen karena peningkatan nilai tukar dolar terhadap rupiah," ujarnya.

    Meski demikian, sebagian besar perusahaan masih menahan untuk tidak menaikkan harga sebagai upaya menjaga pasar. Di saat kondisi perekonomian seperti ini, tutur dia, perusahaan cenderung memilih melakukan efisiensi.

    Untuk menggenjot penjualan, Rumah Kita menggelar pameran pada 21 Januari-1 Februari. Secara total, perusahaan melakukan pameran sekitar tiga sampai empat kali dalam satu tahun.

    Jimmy mengatakan beberapa promosi yang diberikan selama pameran adalah cicilan bunga nol persen, pemberian voucher belanja, dan beberapa hadiah langsung. Pameran yang dilakukan saat ini merupakan bagian upaya untuk menghabiskan stok penjualan tahun lalu.

    “Biasanya, pameran dilakukan di Mal Paragon, yang menyasar kelas menengah ke atas. Pelaksanaan di Mal Ciputra ini adalah yang pertama kali. Kami mencoba menyasar pasar yang lebih besar di kelas menengah sebagai bagian dari diversifikasi,” katanya.

    Secara umum, ujar dia, penjualan furnitur dengan permintaan paling tinggi berada pada kisaran harga sekitar Rp 5 juta. Penjualan pada harga tersebut mencapai sekitar 50 persen dari total penjualan perusahaan.

    Dia melanjutkan, penjualan di sana didominasi masyarakat Semarang. Adapun selama pameran, domisili konsumen lebih beragam. Sekitar 30 persen berada di luar Kota Semarang. Konsumen dominan adalah untuk perumahan, renovasi, atau pengantin baru.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.