Ini Kendala Perkembangan Bisnis UKM Tangerang Selatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lampu hias dan aksesoris dekoratif dari Kampung Gentur, Cianjur, dipamerkan di gelar produk kreasi Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah di Metro Indah Mall, Bandung, Kamis (28/5). Produk tersebut dijual mulai harga Rp 75.000 sampai Rp 1 juta. TEMPO/Pr

    Lampu hias dan aksesoris dekoratif dari Kampung Gentur, Cianjur, dipamerkan di gelar produk kreasi Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah di Metro Indah Mall, Bandung, Kamis (28/5). Produk tersebut dijual mulai harga Rp 75.000 sampai Rp 1 juta. TEMPO/Pr

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah pengusaha skala kecil dan menengah di Tangerang Selatan terkendala oleh terbatasnya tenaga produksi dan pemasaran sehingga bisnisnya tidak bisa berkembang lebih cepat.

    Ahmad Sabili, pengusaha skala kecil dan menengah (UKM) produk makanan cemilan, mengatakan sebagian besar tenaga kerja yang ada lebih tertarik bekerja pada industri besar, maupun sektor jasa dan ritel.

    “Susah mencari tenaga kerja yang mau repot mengolah bahan baku atau memasak di dapur, karena mereka lebih tertarik kerja dengan pakaian rapi di industri besar atau sektor jasa dan ritel. Kalaupun ada, minta upahnya terlalu mahal,” kata Sabili, Kamis (21 Januari 2016).

    Menurut Sabili, prospek usaha dibidang produksi makanan kecil dari singkong seperti keripik dan kerupuk, itu cukup prospektif dilihat dari potensi pasarnya di Jakarta dan daerah sekitarnya.

    Untuk itu, lanjutnya, usahanya akan dikembangkan dengan memproduksi aneka makanan cemilan berbasis pisang, mengingat bahan bakunya, termasuk singkong, itu cukup banyak dari wilayah Banten, Jawa Barat, dan Lampung.

    Sabili mengungkapkan dirinya bersama rekan sesama pengusaha UKM lainnya tertarik untuk suatu saat bergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Tangerang Selatan atau organisasai sejenis yang lainnya.

    Namun, imbuh Sabili, untuk bergabung dengan organisasi pengusaha tersebut akan dilakukan nanti setelah usahanya relatif lebih mapan dari kondisi sekarang yang masih dalam tahap berjuang keras memperluas pasar dan meningkatkan produksi. 

    “Saya tahu banyak manfaatnya, tetapi sampai sekarang saya belum PD untuk bergabung di organisasi seperti Kadin atau yang sejenisnya di Kota Tangsel, dalam kondisi usaha masih perjuangan keras,” ujar Sabili.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.