Program Subsidi Minyak Nabati dan Solar Diprediksi Bangkrut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar jenis Premium dengan cara self service di salah satu SPBU di Jakarta, 23 Desember 2015. Pemerintah menurunkan harga bahan bakar jenis premium sebesar Rp150 per liter, yaitu dari Rp7.300 per liter menjadi Rp7.150 per liter, sedangkan solar menjadi Rp5.950 per liter berlaku mulai 5 Januari 2016. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

    Sejumlah pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar jenis Premium dengan cara self service di salah satu SPBU di Jakarta, 23 Desember 2015. Pemerintah menurunkan harga bahan bakar jenis premium sebesar Rp150 per liter, yaitu dari Rp7.300 per liter menjadi Rp7.150 per liter, sedangkan solar menjadi Rp5.950 per liter berlaku mulai 5 Januari 2016. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.

    TEMPO.CO, Jakarta - Program subsidi B20 yang mencampur 20 persen minyak nabati dengan solar diperkirakan akan mengalami kekurangan dana dikarenakan terus merosotnya harga minyak mentah dunia sementara dana talangan yang tersedia jumlahnya terbatas.

    "Program biodiesel sawit saat ini memang tergantung pada ketersediaan dan kecukupan dana sawit untuk menopang perbedaan harga antara CPO dan kenyataan harga minyak fosil yang sangat rendah," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit, Bayu Krisnamurthi, dalam jumpa pers, di Jakarta, Kamis, 21 Januari 2015.

    Bayu menjelaskan, pada tahun 2016, proyeksi penghimpunan mencapai Rp9,5 triliun, dengan rencana pendanaan untuk peremajaan dan kegiatan lain mencapai Rp800--Rp1 triliun. Dia mengatakan bahwa kemungkinan diperkirakan akan terjadi kekurangan dana, namun dia akan berusaha untuk mencari solusi atas masalah tersebut.

    "Dengan perhitungan tersebut, ketersediaan dana sawit cukup aman untuk menopang program B20 hingga 8--10 bulan kedepan dengan tetap menjaga program-program lain dapat berlangsung dengan baik," kata Bayu.

    Bayu mengatakan, dengan semakin besar perbedaan harga CPO dan harga minyak fosil maka akan semakin besar dana yang dibutuhkan agar program biodiesel tetap berjalan. Pada tahun 2016, untuk mendukung program B20, setiap penurunan minyak bumi sebesar satu dolar AS per barrel dibutuhkan tambahan dana sekitar Rp350 miliar.

    "Sementara untuk setiap kenaikan harga CPO sebesar satu dolar AS per ton dibutuhkan tambahan dana sebesar Rp38 miliar," kata Bayu.

    Bayu menjelaskan, jika harga crude oil mencapai 40 dolar AS per barrel dan harga CPO 500 dolar AS per ton, maka dibutuhkan dana sekitar Rp9,5 triliun. Dan jika harga crude oil sebesar 20 dolar AS per barrel dan harga CPO tetap di 500 dolar AS per barrel maka dibutuhkan dana sekitar Rp16,5 triliun.

    Pada tahun 2015, dana sawit yang telah dihimpun mencapai Rp6,9 triliun. Pembayaran dana biodiesel dan pembiayaan program-program lain pada tahun 2015 mencapai Rp534 miliar.

    Realisasi penyerapan biodiesel sawit tahun 2014 mencapai 1,78 juta kiloliter atau rata-rata 148.000 kiloliter per bulan, dimana program tersebut pada tahun 2014 masih ditopang oleh subsidi APBN.

    Pada tahun 2015 realisasi penyerapan biodiesel mencapai 863.000 kiloliter atau dengan rata-rata 72.000 kiloliter per bulan. Namun, pada tahun 2015 mulai 18 Agustus, subsidi dari APBN sudah tidak ada lagi untuk biodiesel.

    Dalam tiga bulan terakhir pada tahun 2015 tersebut, rata-rata serapan biodiesel mencapai 117.000 kiloliter per bulan.

    Sementara pada awal tahun 2016, dalam waktu dua minggu, penyerapan biodiesel telah mencapai 107.000 kiloliter atau diperkirakan akan mencapai rata-rata 200.000 kiloliter per bulan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.