Rizal Ramli Kritik Operasi Pasar Beras Bulog  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli dalam Rapat Kerja Pansus Pelindo II di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 29 Oktober 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli dalam Rapat Kerja Pansus Pelindo II di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 29 Oktober 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli mengkritik sistem operasi pasar yang dilakukan selama ini. Ia membandingkan intervensi langsung yang dilakukan melalui pedagang-pedagang menengah pada masa lampau dengan kondisi sekarang.

    Belakangan ini, menurut Rizal, operasi pasar beras Bulog disalurkan lewat pemain-pemain besar. “Padahal pemain besar ini sudah punya market power atau kekuatan pasar,” tuturnya seusai rapat di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Januari 2016.

    Pedagang besar yang diberi beras operasi pasar ini, kata Rizal, selanjutnya bisa seenaknya menentukan harga. "Kami mohon Bulog, saat intervensi, lakukan kepada pedagang menengah sehingga lebih kompetitif," ucapnya. "Jangan diberikan, misalnya sama pedagang besar di Cipinang. Nanti mereka cincai-cincai aja nentuin harganya sendiri."

    Tak efektifnya operasi pasar ini, menurut Rizal, juga terlihat dari masih terus naiknya harga beras meskipun pemerintah telah mengintervensi pasar. Hal ini mengutip dari penjelasan Kementerian Perdagangan yang menyebutkan, walaupun kondisi surplus, harga beras tetap naik. "Ini menunjukkan ketataniagaan yang enggak beres. Seharusnya, kalau surplus, harga turun," katanya. “Ada yang enggak beres sistemnya di situ.”

    Rizal juga menuding ada ketidakberesan dalam sistem operasi pasar. Hal ini, di antaranya, terlihat dari margin beras di pedagang yang jauh lebih tinggi ketimbang margin yang diterima petani.

    Rizal menyatakan seharusnya margin petani lebih tinggi agar ada insentif untuk petani dalam memproduksi. "Kami minta Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan KPPU menunjukkan sistem perdagangan beras itu kompetitif," ujarnya.

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.