Jones Lang LaSalle: 2015, Sektor Perkantoran Paling Tertekan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung-gedung pencakar langit di pusat kota Jakarta, 11 Juli 2014. Pada saat ini terdapat 133 bangunan tinggi yang sedang dalam proses konstruksi di Jakarta,  43 di antaranya gedung perkantoran, 7 apartemen dan 83 apartemen strata. Tempo/Tony Hartawan

    Gedung-gedung pencakar langit di pusat kota Jakarta, 11 Juli 2014. Pada saat ini terdapat 133 bangunan tinggi yang sedang dalam proses konstruksi di Jakarta, 43 di antaranya gedung perkantoran, 7 apartemen dan 83 apartemen strata. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta -  Konsultan properti Jones Lang LaSalle Research menyebutkan sektor perkantoran merupakan bagian properti yang paling tertekan sepanjang tahun lalu. Salah satunya karena banyaknya pasokan gedung perkantoran sementara pasarnya sudah mulai jenuh.

    Tertekannya sektor perkantoran ini terlihat dari penurunan harga sewa gedung perkantoran pada kuartal keempat disbanding kuartal-kuartal sebelumnya. “Pada triwulan keempat 2015, banyak pemilik gedung perkantoran menerapkan harga sewa turun sebesar 1,9 persen dibandingkan triwulan sebelumnya pada kelas premium,” ujar Head of Markets Jones Lang LaSalle Research, Angela Wibawa, di Menara II Indonesia Stock Exchange, Rabu, 20 Januari 2016.

    Angela menjelaskan, penurunan harga sewa gedung ini tak lepas dari penyelesaian empat gedung perkantoran kelas A pada tiga triwulan terakhir di 2015 yang berpengaruh pada tingkat hunian gedung perkantoran. Ia mencontohkan, tingkat hunian pengunjung di gedung perkantoran di kawasan central business district (CBD) khususnya tahun lalu berkisar di angka 89 persen.

    Sementara tingkat hunian di perkantoran kelas A, menurut  Angela, berada pada angka 85 persen. "Kami melihat animo yang cukup berkelanjutan dari perusahaan e-commerce, yaitu sektor yang memiliki potensi untuk berkembang di Jakarta," ucapnya.

    Dengan banyaknya pasokan perkantoran yang akan rampung, meskipun permintaan membaik, Angela memprediksikan penurunan harga sewa masih akan terjadi pada 2016 hingga 2017. "Walaupun demikian, tetap ada potensi kenaikan harga sewa pada akhir proyeksi lima tahun ke depan," ujar Angela.

    Head of Research Jones Lang LaSalle Research, James Taylor, sebelumnya mengatakan sejumlah alasan yang membuat sektor properti secara keseluruhan melempem tahun lalu. Sejumlah alasan itu adalah pertumbuhan ekonomi yang relatif melambat, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan rendahnya harga komoditas telah memberikan dampak bagi beragam sektor properti dengan level yang bervariasi.

    Karena itu, Taylor memperkirakan meskipun tingkat permintaan terhadap perkantoran akan meningkat pada 2016 tapi tingkat huniannya akan menurun. “Situasi pasokan perkantoran menyebabkan tingkat hunian akan terus menurun dalam jangka pendek,” tuturnya.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.