Petani Tasikmalaya Desak Pemerintah Kembangkan Beras Organik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani mencoba mengolah lahannya kembali setelah tanamannya rusak akibat terkena abu vulkanik gunung Bromo di desa Ngadisari, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, 4 Januari 2016. Akibat guyuran abu vulkanik gunung Bromo, lahan pertanian seluas 1.360 hektare rusak dan gagal panen dengan katagori berat hingga ringan terutama di kecamatan Sukapura dan Sumber. ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    Petani mencoba mengolah lahannya kembali setelah tanamannya rusak akibat terkena abu vulkanik gunung Bromo di desa Ngadisari, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, 4 Januari 2016. Akibat guyuran abu vulkanik gunung Bromo, lahan pertanian seluas 1.360 hektare rusak dan gagal panen dengan katagori berat hingga ringan terutama di kecamatan Sukapura dan Sumber. ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kalangan petani di Kota Tasikmalaya Jawa Barat meminta pemerintah setempat maupun provinsi untuk menggenjot produksi beras organik.

    Penasihat Forum Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tasikmalaya Yuyun Suhud menyatakan saat ini kawasan itu sebagai salah satu sentra terbesar produksi beras organik di Jabar.

    Namun, pengembangan beras organik masih terkendala dengan berbagai persoalan salah satunya minat petani yang dibenturkan dengan permodalan.

    "Tasik merupakan daerah percontohan penghasil beras organik. Tapi hal ini belum ditunjang dengan modal yang memadai," katanya, Selasa (19 Januari 2016).

    Dia menyebutkan, saat ini di Kota Tasikmalaya luas penghasil produksi organik hanya mencapai 5 hektare (ha). Padahal, potensi pengembangannya bisa mencapai puluhan hingga ratusan ha.

    Dia menjelaskan harga beras organik bisa tiga kali lipat dari harga beras biasanya. Misalnya, harga beras berkualitas premium mencapai Rp10.000 per kg, maka beras organik sebesar Rp30.000 per kg.

    "Pasar beras organik saat ini mayoritas masih diekspor karena daya beli masyarakat domestik masih relatif rendah," ujarnya.

    Kendati demikian, pihaknya menggandeng gapoktan di Kabupaten Tasikmalaya untuk mengembangkan produksi beras organik di Kota Tasikmalaya. Sebab, Kabupaten Tasikmalaya saat ini pengembangannya lebih intensif.

    "Kami terus massif untuk pengembangan beras organik di Kota Tasik. Sebab, jika banyak yang memproduksi tentunya akan mengerek daya saing serta mendongkrak pendapatan petani, apalagi saat ini pasar bebas Asean," ujarnya.

    Selain itu, dia mengaku, saat ini jumlah penyuluh pertanian di Kota Tasik masih jauh dari ideal. Saat ini jumlah penyuluh masih di bawah 40 orang, di mana jumlah itu kurang optimal diberdayakan dengan total kelurahan sebanyak 69 wilayah.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!