Tahun Ini, Bulog Targetkan Serap 3,9 Juta Ton Beras Petani

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi dengan Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, Djarot Kusumayakti (kanan) dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melihat pasokan beras di Pergudangan Bulog, Sunter, Jakarta, 2 Oktober 2015. Joko Widodo membuka operasi pasar dengan meluncurkan 300 ribu ton beras premium ke pasar di seluruh Indonesia. Tempo/Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi dengan Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, Djarot Kusumayakti (kanan) dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melihat pasokan beras di Pergudangan Bulog, Sunter, Jakarta, 2 Oktober 2015. Joko Widodo membuka operasi pasar dengan meluncurkan 300 ribu ton beras premium ke pasar di seluruh Indonesia. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Perum Bulog (Persero) menargetkan pengadaan beras hingga 3,9 juta ton dari petani. Target tersebut terdiri dari pengadaan beras medium untuk penugasan pemerintah (public service obligation/PSO) sebanyak 3,2 juta ton, dan 700 ribu ton beras premium untuk komersial.

    "Untuk menjaga kestabilan harga beras di dalam negeri, Perum Bulog berupaya memperkuat stok beras yang dimilikinya," kata Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu, Selasa, 19 Januari 2016.

    Total dana yang akan digelontorkan untuk menyerap beras sebanyak itu mencapai sekitar Rp 30 triliun. "Untuk beras PSO kan harganya Rp 7.500 per kilogram, kalau yang premium agak lebih tinggi, jadi anggarannya hampir Rp 30 triliun," kata Wahyu.

    Wahyu menyatakan, agar target penyerapan beras tersebut dapat tercapai, Bulog mengerahkan para petugasnya di lapangan, termasuk dengan bekerja sama dengan para mitra, serta Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA). "Petugas kami juga sudah bekerja terus," ujarnya.

    Bagaimanapun, Wahyu menambahkan, keberhasilan pengadaan beras ini tidak hanya ditentukan oleh Bulog saja. Yang paling penting tentunya produksi dari petani itu sendiri. Sebab, bila produksi beras tak seperti yang diharapkan, tentu serapan beras Bulog juga sulit mencapai target. Karena itu, ia berharap dampak El Nino pada akhir 2015 tidak terlalu parah, dan ancaman La Nina tidak menjadi kenyataan. "Sebetulnya kami sudah siap menyerap, tapi produksi beras lagi-lagi tergantung iklim, alam," tuturnya.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.