Kisruh Blok Masela, Presiden Jokowi Diminta Evaluasi Rizal Ramli  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli dalam Rapat Kerja Pansus Pelindo II di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 29 Oktober 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli dalam Rapat Kerja Pansus Pelindo II di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 29 Oktober 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Ferdinand Hutahaean meminta Presiden Joko Widodo mengevaluasi Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli. Hal ini terkait dengan proyek Blok Masela. Rizal dinilai menentang pembangunan Blok Masela di laut.

    "Menko Kemaritiman tidak berpihak pada pengembangan kemaritiman," kata Ferdinand lewat pesan pendek, Senin, 18 Januari 2016.

    Menurut Ferdinand, Blok Masela sangat kaya cadangan gas. Namun, karena ulah kabinet, proyek ini sepertinya masih butuh waktu lebih lama untuk bisa menyumbang pemasukan ke anggaran pendapatan dan belanja negara.

    Ferdinand menyayangkan Rizal Ramli tak bisa sepaham dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said perihal ini. "Mereka tak sepaham terkait dengan keputusan nasib Masela, apakah dibangun onshore atau offshore," katanya.  Ferdinand juga heran karena Rizal merasa berhak menentukan nasib Masela. Padahal kementerian teknis adalah Menteri ESDM.

    "Jika mengacu pada konsep Presiden Jokowi, yaitu konsep maritim, dan Rizal Ramli mengerti posisinya adalah Menko Maritim, mestinya dia harus mendukung pengembangan kemaritiman kita," ujar Ferdinand.

    "Bukan malah mengabaikan maritim dan ingin berfokus ke darat. Ini aneh menurut kami, Menko Maritim, tapi tidak berpihak pada pengembangan maritim. Ada apa dengan Rizal Ramli?"

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.