Rizal Ramli: Indonesia Bisa Kuasai Industri Kapal ASEAN

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembangunan kapal Perusak Kawal Rudal 10514, bekerja sama dengan DAMEN Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda, di PT PAL Indonesia, Surabaya, 14 Agustus 2015. Kapal ini merupakan pesana Kementerian Pertahanan Indonesia. ANTARA/M Risyal Hidayat

    Pembangunan kapal Perusak Kawal Rudal 10514, bekerja sama dengan DAMEN Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda, di PT PAL Indonesia, Surabaya, 14 Agustus 2015. Kapal ini merupakan pesana Kementerian Pertahanan Indonesia. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Surabaya - Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli meyakini Indonesia bakal unggul dalam bisnis perkapalan, terutama di ASEAN. Dia merujuk pada produksi kapal perang Strategic Sealift Vessel (SSV)-1 pesanan Kementerian Pertahanan RI dan kapal Perusak Kawal Rudal (PKR)-1 pesanan pemerintah Filipina oleh PT PAL Indonesia.

    “Atas nama Presiden Joko Widodo, kami sangat mengapresiasi kerja sama dalam pembangunan kapal ini, sebagai bentuk kepercayaan di antara negara-negara ASEAN,” ujarnya saat membuka peluncuran kapal dan pelunasan kapal SSV-2 di Dermaga Semarang, Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia, Senin, 18 Januari 2016.

    Menurut Rizal, sudah saatnya orang ASEAN memperluas hubungan dalam pertahanan, keamanan, dan politik. Menteri yang dikenal dengan jurus 'kepret'nya itu mengungkapkan pula kalau sekarang saatnya Indonesia harus menguasai pasar kapal.

    "Sebab, melalui PT PAL Indonesia, negara terbukti mampu membuat dan mengeskpor kapal perang canggih ke negara tetangga," kata dia.

    Rizal mengisahkan pergeseran industri kapal yang semula dikuasai oleh bangsa-bangsa Eropa pada 1970-an. Namun akibat harga bahan baku yang semakin mahal, industri mulai berpindah ke Jepang.

    Di Jepang pun, harga bahan baku makin mahal sehingga berpindah ke Korea. “Kini mulai bergeser ke Vietnam dan Indonesia. Ini momentum kita,” tuturnya. Untuk itu, Indonesia berpeluang menguasai pasar ASEAN dan Asia. Meski begitu, Indonesia masih perlu melakukan kerja sama teknologi dan manajemen.

    Adapun bagi galangan kapal Eropa, kerja sama itu sama-sama menguntungkan karena industri perkapalan di sana dinilai tak lagi kompetitif. “Kalau ada strategic alliances dengan Indonesia, Filipina, dan negara ASEAN, mereka bisa kompetitif,” kata dia.

    Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) M Firmansyah mengatakan kapal PKR merupakan pesanan Kementerian Pertahanan. Ia merupakan kapal canggih kelas Frigate, hasil kerja sama dengan perusahaan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda melalui skema transfer teknologi.

    Sementara itu, kapal SSV merupakan kapal canggih kelas Lloyd Register karya putra-putri Indonesia. Kapal ini dipesan Kementerian Pertahanan Filipina. Pengerjaan fisik kedua kapal disebutkannya sudah mencapai 85 persen. Berikutnya, kapal akan menjalani serangkaian tahap penyelesaian akhir berupa finishing dan pengujian di atas laut.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.