Beli Saham Freeport, Ini Rencana Antam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan melintas dekat puluhan kantong biji nikel yang siap dikirim di pertambangan nikel Aneka Tambang, di Pomalaa, Sulawesi Tenggara(30/3). REUTERS/Yusuf Ahmad

    Seorang karyawan melintas dekat puluhan kantong biji nikel yang siap dikirim di pertambangan nikel Aneka Tambang, di Pomalaa, Sulawesi Tenggara(30/3). REUTERS/Yusuf Ahmad

    TEMPO.COJakarta - PT Aneka Tambang Tbk masih menunggu arahan dari pemerintah terkait dengan rencana pembelian saham divestasi PT Freeport Indonesia sebesar US$ 1,7 miliar. Pekan lalu, perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu menawarkan 10,64 persen sahamnya ke pemerintah. (Baca: Divestasi Saham Freeport, Wapres Kalla: Ini Bukan Uang Kecil)

    “Kami menunggu dari pemerintah sendiri seperti apa arahannya,” kata Direktur Keuangan Antam Dimas Wikan Pramudhito, di Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Jakarta, 18 Januari 2016. Dia yakin pemerintah tengah menyiapkan strategi terhadap tawaran yang diberikan Freeport.

    Sampai saat ini, Dimas menjelaskan, Antam belum mendapatkan arahan dari Kementerian BUMN untuk menyiapkan anggaran guna membeli saham divestasi Freeport. Antam pun masih melakukan kalkulasi kemampuan finansial. Namun dia enggan menyebutkan secara detail kemampuan yang dimiliki Antam. (Baca: JK: Pemerintah Tengah Kaji Penawaran Saham Freeport)

    Sekretaris Perusahaan, Tri Hartono, sebelumnya menyatakan Antam siap membeli saham divestasi tersebut. Namun perusahaan tambang logam itu belum memutuskan apakah akan membeli pada harga yang diajukan Freeport sebesar US$ 1,7 miliar. “Kami akan bernegosiasi supaya harganya di bawah itu,” katanya pekan lalu.

    Meski dana yang disiapkan cukup, kata Tri, Antam bakal melibatkan diri bersama tim valuasi aset. Antam berjanji melakukan proses uji tuntas pada berkas penawaran Freeport dengan asumsi yang dipakai perseroan. "Sudah banyak institusi finansial yang mendukung untuk memberikan pinjaman," katanya kepada Tempo.

    SINGGIH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.