Menteri Lembong: Perlu Eksperimen di Industri E-commerce  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Thomas Lembong, Menteri Perdagangan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Thomas Lembong, Menteri Perdagangan. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengatakan para pelaku industri e-commerce atau industri berbasis online memerlukan eksperimen dengan tidak memberikan regulasi yang memberatkan.

    "Kita harus hati-hati untuk tidak langsung masuk dengan regulasi yang berat-berat. Perusahaan besar, meski dengan regulasi dan perizinan yang bertele-tele, mereka mempunyai skala ekonomi, modal, dan staf yang mengurus. UKM sulit untuk itu. Jika kita mau menyesuaikan digital ekonomi dengan anak muda, kita tidak boleh hantam dengan regulasi yang berat," kata Thomas, dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.

    Thomas mengatakan, dalam industri e-commerce, tanpa ruang untuk melakukan eksperimen maka tidak akan terjadi inovasi. Namun tidak semua hal yang dilakukan dalam eksperimen tersebut bisa langsung berhasil, banyak juga yang gagal.

    "Saya mau belajar dari Amerika Serikat. Pada pertengahan tahun 1990 itu pertama kalinya Internet muncul sebagai industri besar. Di AS, ada dua aspek, yakni light touch dan safe harbor," kata Thomas.

    Thomas menjelaskan bentuk konsep light touch adalah pemberian ruang bereksperimen oleh pemerintah untuk industri digital.

    Jika terjadi kegagalan dalam eksperimen tersebut, akan ada pihak yang dirugikan. Namun pihak yang dirugikan itu tidak dapat menjadikan kegagalan tersebut sebagai perkara selama tidak ada niat buruk atau penipuan. Itulah yang dimaksud dengan konsep safe harbor.

    "Eksperimen pasti banyak yang gagal, dan ketika gagal pasti ada pihak yang dirugikan, tapi jangan langsung jadi perkara. Itu makna utama dari safe harbor, ada perlindungan, asal tidak dengan niat buruk," ujar Thomas.

    Thomas menambahkan dia mengharapkan sentuhan dari pemerintah nantinya masih ringan dalam bentuk regulasi. Namun, dia menegaskan, para pelaku usaha di industri e-commerce bukan berarti bebas dari regulasi-regulasi yang sudah ada meskipun belum ada peraturan yang mengatur secara khusus.

    "Jangan salah mengerti, pelaku di sektor digital atau dunia maya diartikan bebas dari regulasi yang ada. Semua pelaku e-commerce tetap harus patuh terhadap peraturan perundangan yang saat ini berlaku, dan itu sudah cukup banyak," kata Thomas.

    Thomas menegaskan para pelaku usaha industri e-commerce harus menaati peraturan, seperti ketentuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), aturan kepabeanan, aturan terkait dengan Standar Nasional Indonesia, dan lainnya.

    Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Perekonomian telah menetapkan formalisasi peta jalan (roadmap) e-commerce dan menjadikannya program nasional yang akan diluncurkan akhir Januari 2016. 

    Peta jalan e-commerce merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Joko Widodo agar industri e-commerce di Indonesia dapat tumbuh dengan manfaat yang dapat menetap di Indonesia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.