Konsumsi Gas untuk Kendaraan Diklaim Meningkat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan tera pada bahan bakar jenis pertalite di SPBU kawasan Kuningan, Jakarta, 29 Desember 2015. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas melakukan tera pada bahan bakar jenis pertalite di SPBU kawasan Kuningan, Jakarta, 29 Desember 2015. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Di tengah menurunnya harga minyak, ternyata penggunaan gas untuk kendaraan diklaim meningkat kendati angkanya masih di bawah bahan bakar minyak bersubsidi.

    Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan konsumsi LNG untuk transportasi terus meningkat meskipun sangat kecil bila dibandingkan dengan konsumsi BBM bersubsidi. Konsumsinya, katanya, naik hingga 40% selama lima tahun terakhir dibanding capaian serapannya di 2014 yaitu 38.000 kilo liter dan kini sekitar 189.000 kilo liter.

    "Lima tahun terakhir, meningkat cukup tajam. Konsumsinya per tahun naik 40% jadi antara 189.000kl sampai 193.000kl," katanya di sela peluncuran penggunaan vi-gas kendaraan kru penerbangan Garuda Indonesia di Jakarta, Jumat (15 Januari 2016).

    Saat ini, terdapat 34 stasiun pengisian khusus LNG. Dia menilai diperlukan insentif dari pemerintah dengan menyediakan converter kit agar mendorong penggunaan bahan bakar jenis gas.

    "Butuh kebijakan pemerintah, butuh converter kit dan insentif agar bisa mendorong konsumsi," katanya.

    Adapun, selama 2015 volume gas dalam kontrak berjalan tercatat 7.733,67 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD) dan volume yang terserap hanya 87,2% atau 6.746,9 BBTUD.

    Dari angka tersebut, kontrak berjalan untuk bahan bakar gas transportasi sebanyak 8,7 BBTUD dan hanya terserap 4,37 BBTUD. Sedangkan, untuk jaringan gas kota hanya terserap 2,08 BBTUD dari kontrak berjalan sebesar 3,51 BBTUD. Sementara itu, pemanfaatan tertinggi baru ada di gas cair (liquefied natural gas/LNG) ekspor yang menyentuh angka 2.147,2 BBTUD.

     

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.