Apresiasi BI Rate, Kalla: Bulan Depan Harus Turun Lagi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menjadi saksi untuk terdakwa mantan Menteri ESDM, Jero Wacik, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 14 Januari 2016. Jusuf Kalla dihadirkan menjadi saksi meringankan atas permintaan terdakwa Jero Wacik. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menjadi saksi untuk terdakwa mantan Menteri ESDM, Jero Wacik, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 14 Januari 2016. Jusuf Kalla dihadirkan menjadi saksi meringankan atas permintaan terdakwa Jero Wacik. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengapresiasi turunnya suku bunga acuan Ba‎nk Indonesia atau BI Rate. Namun dia berharap bulan depan angkanya kembali turun.‎

    JK mengatakan suku bunga memang seharusnya diturunkan untuk meningkatkan investasi. ‎"Kalau bunga tinggi, akhirnya orang simpan di deposito," ucap Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat, 15 Januari 2016.

    Suku bunga rendah, ujar Kalla, juga diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. ‎"Memang harus turun secara bertahap. Kita harapkan bulan depan turun lagi."‎

    Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 7,25 persen. Suku bunga deposit dan lending facility juga ikut turun masing-masing 5,25 persen dan 7,75 persen.

    Penurunan suku bunga acuan ini diharapkan memperkuat pelonggaran kebijakan makroprudensial dan penurunan giro wajib minimum yang telah dilakukan sebelumnya. Pelonggaran kebijakan masih terbuka setelah dilakukan assessment terhadap kebijakan ekonomi domestik dan global secara menyeluruh.

    Dalam beberapa kesempatan, Kalla memang meminta tingkat suku bunga kredit perbankan Indonesia diturunkan. Dia menilai suku bunga Indonesia yang tinggi melampaui kebijakan tingkat bunga di negara lain. "Tingkat bunga kita masih lebih tinggi dibanding negara sekitar. Di Malaysia 5 persen, kita 10 persen. Dengan Malaysia saja, kita kalah, apalagi dengan Cina," tuturnya pada pertengahan November lalu.

    FAIZ NASHRILLAH



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.