Pasca-Serangan Bom Sarinah, Starbucks Kembali Buka Gerainya Hari Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menunjukkan jari tangan yang sudah tercelup tinta pemilu dan segelas kopi di gerai Kopi Starbuck, Jakarta (9/4).  Starbucks membagi-bagikan kopi gratis kepada masyarakat yang telah mencoblos. Tempo/Tony Hartawan

    Warga menunjukkan jari tangan yang sudah tercelup tinta pemilu dan segelas kopi di gerai Kopi Starbuck, Jakarta (9/4). Starbucks membagi-bagikan kopi gratis kepada masyarakat yang telah mencoblos. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Starbucks kembali membuka semua gerainya di Indonesia hari ini, Jumat, 15 Januari 2016. “Berdasarkan stabilisasi situasi yang disampaikan otoritas lokal, kami membuka semua gerai di Jakarta dan seluruh Indonesia,” ujar manajemen Starbucks Corporation, seperti dikutip dari laman resmi perusahaan, www.starbucks.com.

    Sebelumnya, kedai kopi asal Amerika itu sempat menutup semua gerainya di Indonesia pasca-ledakan di Starbucks, kawasan Sarinah, kemarin. Akibat ledakan itu, kaca-kaca gerai Starbucks di Gedung Cakrawala, pecah.

    Tak hanya itu, seorang pengunjung dikabarkan mengalami luka-luka. “Semua gerai Starbucks di Jakarta ditutup (kemarin) karena kewaspadaan tingkat tinggi sampai pemberitahuan selanjutnya," bunyi siaran pers dari situs Starbucks kemarin.

    Dalam siaran pers tersebut, Starbucks juga menyatakan timnya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan memantau situasi terkini. “Kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah daerah dan melaporkan keadaan terkini,” tutur manajemen. Mereka juga mengucapkan bela sungkawa atas kejadian tersebut.

    Teror di kawasan Sarinah, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, kemarin menewaskan tujuh orang: 5 pelaku teror, 1 warga negara Belanda, dan 1 warga negara Indonesia. Sebanyak 17 orang menjadi korban luka dalam peristiwa tersebut, termasuk lima polisi.

    DEVY ERNIS



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.