OJK: Industri Perbankan 2016 Jauh Lebih Optimis dari 2015

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Darmansyah Haddad memberikan sambutan saat sosialisasi program Jaring di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pondok Dadap Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kec. Sumber Manjing, Malang, Jawa Timur, 13 November 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Darmansyah Haddad memberikan sambutan saat sosialisasi program Jaring di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pondok Dadap Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kec. Sumber Manjing, Malang, Jawa Timur, 13 November 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan menyatakan pelaku industri perbankan optimistis pertumbuhan bisnis lebih baik dibandingkan tahun lalu dari rencana bisnis bank yang diserahkan kepada pihak regulator.

    Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Irwan Lubis mengatakan dengan melihat kondisi makro yang cenderung lebih baik dibandingkan 2015, dirinya berharap target tersebut bisa tercapai.

    "Kami sudah menerima RBB dari 118 bank pada akhir November 2015, sekarang proses review. Kami akan meeting dengan manajemen bank untuk membahas itu, sehingga ada kesamaan pandangan target," ujarnya di Jakarta, Rabu (13 Januari 2016).

    Dari rencana bisnis yang diterima, Irwan menyebutkan gambaran pertumbuhan total aset secara industri tumbuh sebesar 12,56% dengan rincian kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) I sebesar 20,18%, BUKU II sebesar 13,15%, BUKU III 10,79% dan BUKU IV sebesar 13,16%.

    Di sisi fungsi intermediasi, secara industri diproyeksikan tumbuh 13,98% dengan pertumbuhan paling besar di kelompok BUKU I sebesar 22,15%. Disusul dengan BUKU IV sebesar 18,85%, BUKU II sebesar 15,53%, dan BUKU III sebesar 11,44%.

    "Saya kira enggak masalah BUKU I pertumbuhannya besar karena mereka masih punya ruang yang besar. Secara amount juga enggak terlalu besar," katanya.

    Dana pihak ketiga secara industri diproyeksikan tumbuh 12,65% tahun depan. Sedangkan dari sisi permodalan secara industri akan naik sebesar 13%.

    Kendati dari sisi bisnis kalangan bankir menyatakan bakal lebih baik pada tahun ini, Irwan mengimbau bank-bank untuk dapat menumbuhkan DPK-nya dengan baik untuk mendorong pertumbuhan kredit.

    Terlebih, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) bank per November 2015 mencapai 90,48%. "Pertumbuhan dana menjadi penting sebagai salah satu upaya untuk mencapai pertumbuhan kredit 13% hingga 14%."

    Sementara itu, Survei Perbankan Kuartal IV/2015 yang diterbitkan Bank Indonesia melaporkan responden survei memperkirakan rerata pertumbuhan kredit 2016 sebesar 12% year-on-year atau lebih tinggi dari realisasi pertumbuhan kredit per November 2015 sebesar 9,8%yoy.

    Optimisme ini terutama didorong oleh perkiraan kondisi ekonomi 2016 yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, perkiraan menurunnya risiko penyaluran kredit, dan rencana penurunan suku bunga kredit.

    Adapun, terkait pertumbuhan DPK, responden memperkirakan akan melambat pada kuartal I/2016, terutama disebabkan oleh perkiraan penurunan suku bunga dana sebesar 3 basis poin.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.