Defisit Neraca Perdagangan pada 2015 Menipis US$180 Juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menata uang yang baru masuk di cash center Bank BNI, Jakarta, 17 Desember 2015. Total volume transaksi mencapai lebih dari 172 T rupiah. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menata uang yang baru masuk di cash center Bank BNI, Jakarta, 17 Desember 2015. Total volume transaksi mencapai lebih dari 172 T rupiah. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia mengestimasi defisit transaksi berjalan di neraca perdagangan pada Desember 2015 membaik menjadi US$180 juta. Secara year-on-year, penurunan diperkirakan terjadi sebesar US$10 juta. Pada Desember 2014, defisit neraca perdagangan tercatat US$190 juta.

    Juda Agung, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, mengatakan penurunan terjadi karena impor barang modal dan impor barang konsumsi mengalami kenaikan sedangkan ekspor masih melemah.

    Pada akhir tahun, pemerintah telah memulai investasi proyek infrastruktur sehingga arus impor terutama barang pendukung realisasi infrastruktur dan angkutan mengalami peningkatan.

    “Ini lebih banyak didorong impor barang modal dan impor barang konsumsi. Ada kenaikan artinya sudah rebound tapi yang lebih besar barang modal,” katanya, di Jakarta, Kamis (14 Januari 2016).

    Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan defisit transaksi berjalan pada neraca perdagangan di kisaran US$17,5 miliar sepanjang 2015.

    Dia menyebutkan komponen terbesar masih berasal dari transaksi jasa dan pendapatan yang memberikan kontribusi minus US$31 miliar atau lebih baik dari tahun lalu yang defisit mencapai US$34 miliar.

    Jumlah secara total current account kan minus US$17 miliar iniadalah perbaikan dari tahun lalu yang mencapai minus US$27 miliar," ucapnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.