Advokasi Rakyat Mendesak Pemerintah Putus Kontrak Lapindo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa mesin pnyedot lumpur Lapindo di desa Pejarakan, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 7 November 2015. Berkas ganti rugi warga yang belum dibayar karena masih dianggap bermasalah dalam hal hak waris, sengketa status tanah basah dan tanah kering. ANTARA/Zabur Karuru

    Petugas memeriksa mesin pnyedot lumpur Lapindo di desa Pejarakan, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 7 November 2015. Berkas ganti rugi warga yang belum dibayar karena masih dianggap bermasalah dalam hal hak waris, sengketa status tanah basah dan tanah kering. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Publish What Your Pay (PWYP) Indonesia mendesak pemerintah untuk memutus kontrak kerja sama dengan Lapindo Brantas Inc, baik kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi di Sidoarjo, Jawa Timur.

    Aryanto Nugroho, Manajer Advokasi dan Jaringan PWYP Indonesia, mengatakan langkah pemerintah yang hanya menghentikan sementara dan mengkaji ulang pengeboran itu dinilai tak memadai untuk menyelesaikan persoalan.

    Seperti diketahui, Lapindo sebelumnya menyatakan akan melakukan pengeboran baru yang berlokasi sekitar 2 kilometer dari sumber lumpur sebelumnya.

    "Pemerintah harus belajar dari pengalaman Lapindo Brantas dalam menangani semburan lumpur panas yang sejak 2006 sampai sekarang belum tuntas," kata Aryanto dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (14 Januari 2016).

    Dia menuturkan kejadian pada 2006 itu menyebabkan matinya sendi-sendi kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat Sidoarjo. Aryanto menambahkan hal itu belum ditambah dengan uang negara yang menanggung ganti rugi maupun memberikan dana talangan.

    Lapindo berencana melakukan pengeboran di Sumur Tanggulangin (TGA)-6 dan Tanggulangi (TGA)-10 yang lokasinya berdekatan dengan pemukiman. PWYP menilai masyarakat tak pernah mendapatkan informasi yang akurat terutama dampak lingkungan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?