Indonesia Impor Gula 70 Ribu Ton untuk Industri Obat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menurunkan gula Raw Sugar curah dari kapal Thailand, untuk dikirim ke pabrik gula Cepiring, Kendal Jawa Tengah (10/9). Foto: TEMPO/Budi Purwanto

    Seorang pekerja Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menurunkan gula Raw Sugar curah dari kapal Thailand, untuk dikirim ke pabrik gula Cepiring, Kendal Jawa Tengah (10/9). Foto: TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Banyuwangi - Indonesia masih mengimpor 70 ribu ton gula setiap tahun untuk industri obat-obatan. Industri gula dalam negeri dinilai belum mampu menghasilkan kualitas gula sebagai bahan baku obat.

    “Kualitasnya memang berbeda (dari gula konsumsi),” kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, saat mengunjungi proyek pembangunan pabrik gula (PG) Glenmore di Banyuwangi, Rabu sore 13 Januari 2016.

    Untuk kebutuhan itu, Rini menambahkan, pemerintah akan menambah peralatan di sejumlah pabrik gula termasuk di Glenmore nantinya agar bisa menghasilkan gula berkualitas tinggi untuk menyuplai bahan baku obat. Bila Indonesia mampu, kata dia, maka harga obat-obatan bisa lebih murah.

    Selain untuk industri obat, kebutuhan gula untuk konsumsi dan rafinasi setiap tahun disebutnya mencapai 5-5,7 juta ton. Saat ini, lebih dari separuh kebutuhan gula tersebut masih mengandalkan impor.

    Kementerian BUMN, kata Rini, menargetkan Indonesia bisa swasembada gula pada akhir 2019. Syaratnya, produktivitas perkebunan tebu minimal harus 90 ton per hektare dengan rendemen 10 persen.

    "Kenyataannya hingga saat ini, banyak daerah yang produktivitas tebunya hanya 65-70 ton per hektare," katanya sambil menambahkan, "Kita harus bekerja keras untuk mencapai target tersebut.”

    Pembangunan PG Glenmore yang dimulai 2012 menjadi satu diantara upaya pemerintah untuk swasembada gula. Pabrik yang berlokasi di Perkebunan Kalirejo, Kecamatan Glenmore, seluas 3000 hektare ini hasil patungan dari PTPN III, PTPN XI dan PTPN XII dengan membentuk anak perusahaan, PT Industri Gula Glenmore.

    Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara XII Irwan Basri, mengatakan, pembangunan PG Glenmore senilai Rp 1,6 triliun tersebut sudah mencapai 53 persen. “Kami menargetkan giling perdana tebu pada Juli 2016 atau setelah Hari Raya Idul Fitri,” kata Irwan.

    Sebagai tahap awal, pabrik akan menggiling 8 ribu ton tebu. Jangka panjang kapasitas produksi akan meningkat hingga 16 ribu ton.

    Untuk mendukung penggilingan perdana itu, PT Industri Gula Glenmore menyelesaikan pembangunan Waduk Sidodadi. Waduk seluas dua hektare itu bervolume 50 ribu meter kubik air.

    IKA NINGTYAS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.