EIA Proyeksikan Penurunan Produksi Minyak Amerika Serikat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fasilitas stasiun produksi yang berada di PT Pertamina EP Field Subang, Jawa Barat, (26/03). Subang Field memiliki 21 sumur yang memproduksi  rata-rata 1.484 BOPD untuk minyak dan 255,612 MMSCFD untuk gas. Tempo/Amston Probel

    Fasilitas stasiun produksi yang berada di PT Pertamina EP Field Subang, Jawa Barat, (26/03). Subang Field memiliki 21 sumur yang memproduksi rata-rata 1.484 BOPD untuk minyak dan 255,612 MMSCFD untuk gas. Tempo/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (US Energy Information Administration/EIA) memprediksi produksi minyak negara itu akan terus menurun hingga 2017.

    Proyeksi tersebut dikeluarkan dalam Outlook Energy Jangka Pendek yang dirilisSelasa (12 Januari 2016).

    Laporan tersebut memperkirakan produksi rata-rata minyak mentah AS akan menurun dari 9,4 juta barel per hari (bph) pada 2015 menjadi 8,7 juta bph pada tahun ini dan akan menyentuh level 8,5 bph pada tahun depan.

    Forecast ini menunjukkan adanya perpanjangan penurunan produksi karena rendahnya harga minyak dunia, sehingga akan sulit mengimbangi melalui peningkatan produksi,” tulis laporan tersebut, dikutip Bisnis.com Rabu (13 Januari 2016).

    Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa berdasarkan data produksi minyak AS bulanan, rata-rata produksi pada sepuluh bulan pertama pada 2015 jauh lebih tinggi 0,2 juta bph dibandingkan rata-rata produksi pada empat kuartal 2014.

    Namun, penurunan produksi minyak AS dimulai pada Mei tahun lalu, di mana penurunan mendekati 0,5 juta bph.

    Angka itu telah melampaui angka peningkatan produksi minyak di Teluk Meksiko yang tercatat 0,1 juta bph sejak April tahun lalu.

    Hanya saja, seiring penurunan harga minyak mentah WTI yang menyentuh level di bawah US$40 per barel pada akhir tahun lalu dan prakiraan harga yang akan lebih rendah hingga pertengahan 2016, maka EIA memprediksi penurunan produksi minyak AS akan menyeluruh.

    Harapan untuk menurunkan arus kas pada 2016 dan 2017 telah mendorong banyak perusahaan meninjau kembali investasinya dan bahkan menunda sejumlah program baru sampai ada pemulihan harga yang berkelanjutan.

    “Prospek suku bunga yang lebih tinggi dan pinjaman yang lebih ketat tampaknya akan membatasi ketersediaan modal bagi banyak produsen kecil seingga meningkatkan tekanan pada penjualan aset dan juga konsolidasi kepemilikan wilayah kepada perusahaan yang finansialnya lebih baik,” tulis laporan itu.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!