Petani Jagung Bali Beralih ke Jeruk Kintamani, Ini Sebabnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani memanen jeruk Lembang di Kampung Bukanagara, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (8/6). Jeruk silangan antara jeruk Garut dan frimont ini berbuah sepanjang tahun dengan harga Rp 12.000 di kebun. Jenis jeruk karya petani lokal ini mampu beradaptasi dengan baik di berbagai iklim tropis. TEMPO/Prima Mulia

    Petani memanen jeruk Lembang di Kampung Bukanagara, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (8/6). Jeruk silangan antara jeruk Garut dan frimont ini berbuah sepanjang tahun dengan harga Rp 12.000 di kebun. Jenis jeruk karya petani lokal ini mampu beradaptasi dengan baik di berbagai iklim tropis. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Tampilnya buah jeruk sebagai primadona membuat petani jagung di Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, mengalihkan perhatiannya dari tanaman jagung. Petani di Kintamani kini cenderung mengalihkan pemanfaatan lahan jagung ke tanaman jeruk sebab buahnya laku keras.

    "Sebagian besar petani di Kintamani mengalihkan lahan tanaman jagung ke tanaman jeruk yang buahnya laku keras di pasaran lokal untuk memenuhi permintaan wisatawan, mayarakat setempat dan keperluan ritual," kata seorang petani jeruk Kintamani, Made Suana, Selasa (12 Januari 2016).

    Berkat tanaman jeruk, banyak petani sudah mampu membeli sepeda motor, memperbaiki rumah tempat tinggal dan menyekolahkan anak-anak hingga ke perguruan tinggi, tambah pria setengah baya itu sambil menunjuk hamparan tanaman jeruk.

    Pengalihan lahan jagung ke tanaman yang lebih ekonomis lainnya tidak saja dialami di Kintamani, tetapijuga di Klungkung yang banyak ditanami rumput gajah untuk pakan ternak dan di Nusa Penida akan dialihkan ke padi gogo.

    Bupati Klungkung Nyoman Suwitra mendorong petani di Nusa Penida, sebuah pulau yang terpisah dengan daratan Bali untuk kembali menggeluti pertanian tanaman pangan antara lain berupa padi gogo yang pernah jaya belasan tahun silam, karena iklimnya yang cocok untuk tanaman pangan tersebut.

    Banyak petani di daerah itu mengalihkan lahan tanaman jagung ke tanaman jenis lainnya yang lebih menguntungkan, sehingga tidak mengherankan jika produksi jagung di daerah pariwisata Bali berkurang, namun semua itu tidak terpengaruh terhadap keperluan masyarakat.

    Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat produksi jagung pada tahun 2015 berdasarkan angka ramalan II diperkirakan sebanyak 36.124 ton pipilan kering atau mengalami penurunan sebesar 4.489 ton pipilan kering (11,05 persen) dibandingkan tahun 2014.

    Jumlah produksi tersebut paling besar kontribusi dari petani di Kabupaten Buleleng yang mencapai 45,79 persen atau 16.540 ton pipilan kering. menyusul Karangasem 22,90 persen atau 8.274 ton dan Klungkung di posisi ketiga dengan 14,56 persen atau 5.258 ton.

    Berkurang produksi jagung di Bali selain karena ada pengalihan lahan juga tanaman kekurangan air akibat kekeringan seperti yang terjadi di Kabupaten Bangli (Kecamatan Kintamani) dan Klungkung (Kecamatan Banjarangkan dan Nusa Penida).

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.