Industri Bahan Baku Farmasi Meminta Indonesia Tiru Cina

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung menghadiri pameran niaga industri farmasi

    Pengunjung menghadiri pameran niaga industri farmasi "Convention on Pharmaceutical Ingredients Southeast Asia yang diselanggarakan di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (20/3). Pameran yang terselanggara untuk kedua kalinya di Indonesia ini berlangsung pada 20-22 Maret 2013. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaku industri bahan baku farmasi meminta bantuan pemerintah untuk menjamin keberlangsungan industri ini dengan memastikan pasar produk ini tetap terbuka. Pemerintah juga diminta membantu mengembangkan jaringan industri farmasi, termasuk untuk pasar global.

    Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) Kendrariadi Suhanda mengatakan bahwa pemerintah mesti membuat kemudahan agar joint venture antara perusahaan lokal dan asing bisa mudah dilaksanakan.

    “Kalau tidak bisa jadi lawan, ya harus dijadikan kawan. Untuk mengembangkan bahan baku, kita harus punya pangsa pasar yang besar. Kalau tidak kuat sendiri, ya cari mitra yang jaringannya internasional. Itu banyak di Cina,” ujar Kendrariadi, Januari 2016.  

    Kendrariadi menjelaskan bahwa pasar global sangat penting bagi pengembangan industri bahan baku farmasi. Pasalnya, jika hanya mengandalkan pasar lokal, industri bahan baku tersebut tidak akan amaksimal produksinya. “Industri farmasi kita itu nilainya US$5,5 miliar, dari nilai dunia yang sekitar US$ 900 miliar. Jadi kita ini hanya nol koma sekian persen saja,” jelasnya.

    Kendrariadi mengatakan insentif yang ditawarkan pemerintah untuk industri hulu farmasi mesti diimbangi dengan komitmen pemerintah. Menurutnya, insentif serupa pernah ditawarkan sekitar 30 tahun lalu. Namun karena skala industri dan pasar yang tidak besar serta kurangnya komitmen pemerintah membuat pengembangan industri tersebut terhambat.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.