Waskita Karya Incar Kontrak Rp 60 Triliun, Wika Rp 86 Triliun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengerjakan proyek jalan layang non tol yang dibangun salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang konstruksi di kawasan Blok M, Jakarta, Rabu (7/3). Jalan Layang Non Tol Antasari-Blok M tersebut dibangun untuk memecah kemacetan setempat. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja mengerjakan proyek jalan layang non tol yang dibangun salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang konstruksi di kawasan Blok M, Jakarta, Rabu (7/3). Jalan Layang Non Tol Antasari-Blok M tersebut dibangun untuk memecah kemacetan setempat. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.COJakarta - PT Waskita Karya (Persero) Tbk membidik kontrak baru pada 2016 senilai Rp 60 triliun. "Dua kali lipat untuk kontrak baru," kata Direktur Utama Waskita Karya M. Choliq di Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Jakarta, Selasa, 12 Januari 2015.

    Dengan tambahan dari proyek 2015, Choliq menjelaskan, total nilai kontrak sekitar Rp 100 triliun. Kontrak sebesar itu berasal dari proyek-proyek jalan tol. "Untuk tahun lalu, pencapaian kontrak Rp 30 triliun."

    Sedangkan penjualan Waskita sepanjang 2015, menurut Choliq, mendekati Rp 15 triliun, dengan laba bersih menembus Rp 1 triliun. "Bisa banyak karena dapat proyek-proyek bagus," tuturnya.

    Badan usaha milik negara lain yang bergerak di sektor konstruksi, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, membidik kontrak Rp 86 triliun. “Naik sebesar 57,74 persen terhadap target 2015,” kata Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Suradi Wongso.

    Suradi menjelaskan, target kontrak tersebut terdiri atas dua bagian. Pertama, perusahaan pelat merah ini membidik kontrak untuk 2016 sebesar Rp 52,296 triliun. “Lalu, target kontrak carry over 2015 sebesar Rp 33,74 triliun,” ucapnya. 

    Suradi mengatakan komposisi target kontrak baru berasal dari pemerintah 20,73 persen, BUMN 15,85 persen, dan swasta 63,42 persen. Hingga Desember 2015, pencapaian nilai kontrak baru yang diraih Wijaya Karya sekitar Rp 25,33 triliun atau 80,03 persen dari target kontrak baru 2015 sebesar Rp 31,65 triliun.

    SINGGIH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.