Belanda Siap Bikin Pembangkit Listrik Tenaga Laut di NTT

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja melakukan perawatan terhadap contoh photovoltaic (Solar Cell) di PT. Pembangkit Jawa-Bali unit pembangkitan Cirata, Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (21/2). Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata mengembangkan 'green energy' yang diolah oleh angin, Matahari, Panas Bumi, dan glombang laut dimana Solar Cell yang terpasang dapat memproduksi sebesar 5000 watt. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Seorang pekerja melakukan perawatan terhadap contoh photovoltaic (Solar Cell) di PT. Pembangkit Jawa-Bali unit pembangkitan Cirata, Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (21/2). Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata mengembangkan 'green energy' yang diolah oleh angin, Matahari, Panas Bumi, dan glombang laut dimana Solar Cell yang terpasang dapat memproduksi sebesar 5000 watt. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Konsorsium Belanda berminat berinvestasi di bidang pengembangan potensi energi listrik arus laut di Selat Gonsalu, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. 

    "Pemerintah Provinsi NTT sudah melakukan pertemuan dengan konsorsium di Belanda pada akhir Desember 2015. Tim lengkap dari Belanda akan tiba di NTT pada 1-5 Februari 2016. Tim ini akan meninjau lokasi di Larantuka," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT, Andre Koreh, di Kupang, Selasa, 12 Januari 2015.

    Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan keserisusan konsorsium Belanda memanfaatkan arus laut di Selat Gonsalu, antara Flores Timur daratan dengan Pulau Adonara untuk pembangkit listrik.

    Menurut dia, dari hasil survei awal diketahui arus Selat Gonsalu memiliki kekuatan 2,5 meter perdetik pada bulan gelap dan 3,5 meter pada detik pada bulan terang (purnama). Pengaruh gravitasi Bulan "menarik" permukaan laut di Bumi.

    "Di Indonesia ini ada 12 titik arus yang bisa dijadikan sebagai pembangkit energi listrik, dan Selat Gonsalu merupakan yang terbaik," katanya. Bahkan para ahli Turbin di Belanda mengatakan arus Selat Gonsalu mampu menghasilkan listrik 300 MegaWatt, lanjutnya, mengutip hasil pertemuan di Belanda.

    Andre Koreh menambahkan sebelum tim lengkap dari Belanda ke NTT, pihaknya akan melakukan pertemuan terlebih dahulu dengan Menteri ESDM, Sudirman Said, untuk membahas masalah itu. Masalah penting yang akan dibahas bersama adalah berkaitan dengan perlunya peraturan pemerintah tentang tarif listrik tenaga arus.

    "Peraturan perundang-undangan kita belum mengatur tarif listrik tenaga arus. Peraturan hanya mengatur tentang tarif listrik tenaga batu bara, diesel, tenaga uap, maupun Matahari," katanya.

    Menurut dia, peraturan itu diperlukan agar konsorsium Belanda dapat menggunakannya sebagai acuan dalam menyiapkan rencana investasi. "Sebenarnya dalam pekan ini sudah ada pertemuan tetapi karena Menteri ESDM sedang berada di luar Jakarta sehingga ditunda," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.