Di Enrekang, Karung Bekas Jadi Pengganti Lahan Kebun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana panen raya padi ambok di area persawahan Batutumonga, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 22 Agutus 2015. Padi Ambok merupakan varietas unggulan Toraja Utara yang mengandung multivitamin dan memiliki kadar gula yang rendah. TEMPO/Iqbal Lubis

    Suasana panen raya padi ambok di area persawahan Batutumonga, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 22 Agutus 2015. Padi Ambok merupakan varietas unggulan Toraja Utara yang mengandung multivitamin dan memiliki kadar gula yang rendah. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.COEnrekang - Sejumlah petani di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, memanfaatkan keterbatasan lahan untuk usaha perkebunan sayuran mereka dengan mengganti lahan dengan media karung bekas. 

    Hal ini justru menjadi jurus jitu di tengah cuaca yang ekstrem belakangan ini. Sebab, karung bekas itu mampu menghasilkan hingga dua jenis sayuran.

    Berdasarkan konsep ini, awalnya tanah dimasukkan bersama dengan pupuk ke karung bekas. Setelah rata, ubi dimasukkan ke karung hingga penuh. Karung dalam posisi berdiri. Para petani kemudian menanam sayuran jenis lain, seperti tomat, cabai, dan kangkung di bagian atas karung.

    Sabah, 45, petani asal Desa Pasang, Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang, mengaku sudah menggeluti konsep pengganti lahan ini sejak dua tahun terakhir. Sebab, kala musim hujan, ia khawatir sayurannya busuk.

    "Selain bisa disimpan di bawah rumah panggung kami, satu kali cocok tanam, dua sampai tiga jenis sayuran dapat kami hasilkan dengan memuaskan," katanya.

    Sabah juga mengaku, dari hasil setiap panennya, ia mendapatkan nilai tambahan yang signifikan ketimbang melakukan proses tanam dengan lahan tanah.

    "Biasanya hanya dapat 1 juta per panen, di mana panennya tiga-empat kali, sekarang Rp 750 ribu tapi panennya hingga 8 kali panen, dengan biaya yang lebih sedikit untuk tiap jenis sayuran," ujarnya.

    Sementara itu, Andi Anhar, Kepala Seksi Keamanan dan Diversifikasi Pangan, Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Enrekang mengatakan, program pengganti lahan itu sudah berjalan tapi hanya di beberapa desa dan kelurahan.

    "Itu sudah diteliti, dan tidak ada dampak negatif dari proses pertumbuhan sayuran di medan karung itu. Namun konsep ini masih kami sosialisasikan kepada petani sayuran lainnya," ujarnya.

    Ia menjelaskan, selain konsep pengganti lahan, masyarakat Enrekang didorong untuk memberdayakan pangan lokal di pekarangan rumah masing-masing. 

    "Selain petani, warga bisa memakai konsep ini, jadi tidak perlu lagi jauh-jauh hanya untuk beli sayuran. Yang pasti, sayuran yang ditanam itu lebih bergizi karena tanpa zat kimia," jelasnya.

    Ia menambahkan Pemerintah Kabupaten Enrekang juga mendorong program kolam di pekarangan rumah agar 4 sehat 5 sempurna berjalan sesuai dengan harapan.

    "Tinggal kesiapan warga dengan kesadarannya untuk hidup sehat karena tanah Enrekang subur, dengan ketinggian di mana kita memiliki banyak pangan lokal yang bergizi," harap Andi.

    DIDIET HARYADI SYAHRIR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.