Pertamina Alokasikan Rp45,7 Triliun Genjot Infrastruktur Gas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fasilitas produksi energi panas bumi yang dioperasikan oleh PT. Pertamina Geothermal Energy area Ulubelu, Lampung, 14 Desember 2015. Fasilitas produksi energi panas bumi Ulubelu mampu menyuplai kebutuhan listrik sebesar 110 MegaWatt. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Fasilitas produksi energi panas bumi yang dioperasikan oleh PT. Pertamina Geothermal Energy area Ulubelu, Lampung, 14 Desember 2015. Fasilitas produksi energi panas bumi Ulubelu mampu menyuplai kebutuhan listrik sebesar 110 MegaWatt. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) selama sepuluh tahun terakhir telah mengeluarkan belanja modal (capex) bagi pengembangan infrastruktur gas senilai 3,68 miliar dolar AS atau sekitar Rp45,7 triliun.

    "Belanja modal Pertamina selama sepuluh tahun tersebut dialokasikan untuk tiga sektor yaitu liquefaction, pipa dan regasiikasi," kata Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro di Jakarta, Senin (11 Januari 2016).

    Wianda mengatakan, belanja modal Pertamina selama 10 tahun itu dialokasikan masing-masing untuk liquefaction sebesar 2 miliar dolar AS dengan total kapasitas terpasang 260 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), pipa sebesar 1,2 miliar dolar sebanyak 950 MMSCFD, dan regasifikasi senilai 485 juta dolar dengan kapasitas 900 MMSCFD.

    Menurut Wianda, Pertamina telah membangun sejumlah fasilitas infrastruktur gas, yaitu regasifikasi Arun dengan kapasitas 400 MMSCFD, regasifikasi PT Nusantara Regas 500 MMSCFD, Donggi Senoro LNG dengan kapasitas dua juta metrik ton per tahun (MTPA).

    Di luar itu, perseroan juga menyiapkan pengembangan pipa Arun-Belawan 200 MMSCFD, pipa Belawan KIM-KEK sebanyak 120 MMSCF, MK-MT-TG sebanyak 250 MMSCFD, pipa Gresik-Semarang 250 MMSCFD, dan pipa Porong-Grati sebanyak 122 MMSCFD.

    "Kami juga akan memulai konstruksi sejumlah proyek, antara lain Duri-Dumai pada 2017 berkapasitas 100 MMMSCFD, Gas Solution untuk KIT-E 175 MMSCFD, FSRU Cilacap 2018 sebanyak 200 MMSCFD, dan regasifikasi Banten 2019 sebesar 500 MMSCFD," ujarnya.

    Hendra Jaya, Direktur utama PT Pertamina Gas (Pertagas), anak usaha Pertamina, menambahkan perseroan memiliki jaringan pipa transmisi "open access" terpanjang di Indonesia, yaitu 2.200 kilometer (km).

    Dengan sistem "open access", semua jaringan pipa perseroan bisa digunakan oleh siapa pun. "Syaratnya, cukup membayar toll fee yang besarannya ditentukan oleh pemerintah, dalam hal ini BPH Migas," ujar Hendra.

    Hendra mengatakan, marjin niaga Pertamina sekitar 0,5-0,75 dolar AS per juta british thermal unit (MMBTU), dibandingkan dengan perusahaan lain yang bisa mencapai 2-3 dolar per MMBTU telah menunjukkan komitmen Pertamina dan afiliasinya untuk menyediakan harga gas yang terjangkau bagi konsumen, melalui marjin niaga yang fair.

    Menurut Hendra, bisnis Pertagas mendapat dukungan yang kuat dari induk usaha. Sejarah bisnis gas Pertagas tak bisa dilepaskan dari keberadaan Pertamina (Persero) yang sejak puluhan tahun sejatinya telah menjadikan gas menjadi bagian bisnisnya.

    Sepanjang 2016, Pertagas mengalokasikan investasi sekitar 325 juta dolar. Sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan bisnis. Hal ini menunjukkan bahwa Pertagas akan terus tumbuh.

    "Kehadiran Pertamina di bisnis gas terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pertamina telah berperan dalam seluruh mata rantai bisnis gas terintegrasi di Indonesia," ujarnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.