JK: Empat Sektor Harus Diperbaiki Demi Sukses MEA

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok Solidaritas Perempuan Indonesia membawa poster Tolak MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dalam aksi memperingati hari Ibu di depan Istana Negara, Jakarta, 22 Desember 2015. Kebijakan MEA yang akan diberlakukan pada akhir 2015 membuat persaingan tenaga kerja semakin ketat. TEMPO/Amston Probel

    Kelompok Solidaritas Perempuan Indonesia membawa poster Tolak MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dalam aksi memperingati hari Ibu di depan Istana Negara, Jakarta, 22 Desember 2015. Kebijakan MEA yang akan diberlakukan pada akhir 2015 membuat persaingan tenaga kerja semakin ketat. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Indonesia harus memperbaiki empat hal jika mau berhasil pada Masyarakat Ekonomi Asean. Hal ini Kalla sampaikan ketika meluncurkan layanan izin investasi tiga jam.

    "Indonesia harus memperbaiki finansial, logistik, energi, dan birokrasi," ujar Kalla di Gedung BKPM, Senin, 11 Januari 2016.

    Menurut Kalla, dalam suasana persaingan MEA, investor akan lebih melirik produk yang lebih efisien. Dalam hal finansial, Kalla mengatakan, harus menurunkan bunga, terutama untuk sektor eknomi kecil. "Saya pikir masyarakat harus terbiasa tumbuh untuk mengambil manfaat dari tumbuhnya ekonomi, bukan manfaat dari tumbuhnya bunga," kata dia.

    Kedua, soal logistik. Kalla mengatakan mahalnya logistik di Indonesia disebabkan oleh infrastruktuf yang tak memadai. Karenanya, pemerintah habis-habisan membangun infrastruktur.

    Soal energi, Kalla menyadari bahwa urusan listrik menjadi prioritas. Untuk itu pemerintah telah meneken proyek pembangunan listrik besar-besaran. "Tahun lalu sudah 19 ribu megawatt, tahun ini 20 ribu megawatt," ujarnya.

    Untuk soal birokrasi, pemerintah, kata Kalla telah meluncurkan delapan paket kebijakan. Dalam paket kebijakan itu, kata dia, telah memotong banyak aturan yang dirasa menghambat investasi dengan birokrasi yang bertele-tele.

    Menurut Kalla, Indonesia punya pasar yang luas, sumber daya manusia dan alam yang cukup. "Jadi Indonesia punya kemampuan untuk menggerakkan ekonomi nasional lebih baik dan lebih cepat dibanding banyak negara yang bermasalah," kata Kalla.

    TIKA PRIMANDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.