Asosiasi Semen: Industri Semen Diprediksi Naik 5 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lokasi pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di kawasan Pegunungan Kendeng Utara, Rembang, Jawa Tengah. Tempo/Budi Purwanto

    Lokasi pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di kawasan Pegunungan Kendeng Utara, Rembang, Jawa Tengah. Tempo/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Percepatan penggarapan proyek infrastruktur di awal 2016 dinilai memberikan dorongan positif bagi industri semen Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia, Widodo Santoso, menyatakan pertumbuhan industri semen diprediksi meningkat sebesar 5 persen.

    “Otomatis meningkat dari tahun lalu yang hanya mengalami kenaikan sekitar 2 persen,” kata dia kepada Tempo, Ahad, 10 Januari 2015. Ditambah lagi, menurut dia, anggaran infrastruktur di tahun ini meningkat sebesar 20 persen dibandingkan 2015 lalu yang sekitar Rp 280 triliun.

    Dengan pertumbuhan 5 persen, Widodo menjelaskan permintaan semen bisa mencapai 3-4 juta ton. Namun jumlah tersebut, dia meneruskan, tak sebanding dengan kapasitas produksi yang diprediksi sebanyak 12-13 juta ton. “Hambatan tahun ini tidak ada, semoga lancar dan impor jangan banyak,” kata dia.

    Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk, Suparni menyatakan perseroan menargetkan kenaikan angka produksi dari 28,6 juta ton di 2015, menjadi 30 juta ton. Perseroan juga menaikkan angka belanja modal 20-25 persen guna merespons potensi pulihnya permintaan. Pendapatan pun diprediksi naik 5-6 persen.

    Kepala Riset dari PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada berpendapat percepatan infrastruktur menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di tahun ini. Menurut dia, industri yang berkaitan dengan infrastruktur pun bakal ikut terangkat. “Industri turunan lainnya seperti semen dan keramik akan naik,” ujarnya.

    Pada kuartal III 2015, laba Semen Indonesia anjlok sebesar 21,62 persen. Perseroan meraup laba bersih sebesar Rp 3,19 triliun, turun dibanding pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp 4,07 triliun. Penurunan disebabkan beban pokok yang melonjak hingga 6,5 persen. Pelemahan kurs rupiah juga menjadi salah satu pemicunya.

    SINGGIH SOARES | MAYA AYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.