Harga BBM, Gas, Listrik Turun, Begini Harapan Pengusaha Mamin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung supermarket Hypermart metropolis melihat produk makanan dan minuman di Cikokol, Tangerang, Banten, Minggu (5/8). ANTARA/Lucky.R

    Pengunjung supermarket Hypermart metropolis melihat produk makanan dan minuman di Cikokol, Tangerang, Banten, Minggu (5/8). ANTARA/Lucky.R

    TEMPO.CO, Jakarta -Penurunan harga bahan bakar minyak, gas dan listrik akan memberikan dampak positif terhadap industri makanan dan minuman. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi S. Lukman optimistis industri makanan dan minuman (mamin)  akan bertumbuh positif dengan adanya penurunan ketiga komponen itu. Namun ia juga berharap pertumbuhan terjadi pada volume mamin. "Untuk 2016 kita ingin pertumbuhan volume penjualan juga ditingkatkan," katanya  di Jakarta, Jumat, 8 Januari 2015.

    Adhi memproyeksikan industri mamin akan bertumbuh di kisaran 7,4 - 7,8 persen, lebih tinggi dari tahun 2015 sebesar 6,9 persen. Pada triwulan I dan II 2015, pertumbuhan lebih didorong oleh kenaikan harga mamin. Di triwulan III dan IV baru terlihat volume penjualan mamin.

    Investasi industri mamin  sepanjang 2015 naik sebesar 326 persen menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Nilai ini setara dengan Rp 184,92 triliun. Pertumbuhan industri ini pada triwulan III 2015 mencapai 6,95 persen dan berkontribusi sebesar 4,73 persen terhadap PDB. Sementara untuk ekspor berkontribusi sebesar US$ 456,6 juta.

    Pertumbuhan di 2016 diproyeksikan cenderung stabil atau meningkat meski tidak signifikan. Apalagi dengan diturunkannya biaya energi hal ini turut mendorong optimisme  pengusaha. "Ini membantu mengimbangi UMP yang selalu naik setiap tahunnya," Adhi berujar.

    Pemerintah menurunan tarif BBM. Untuk jenis solar  turun dari Rp 6.700 menjadi Rp 5.750 per liter. Sementara, BBM jenis Premium di luar Pulau Jawa, Pulau Madura, dan Pulau Bali turun dari Rp 7.300 menjadi Rp 6.950 per liter. Untuk di Pulau Jawa, Pulau Madura, dan Pulau Bali, Premium dijual dengan harga Rp 7.050 menjadi Rp 7.400.

    Begitu pula  dengan tarif listrik mulai 1 Januari 2016, turun. Untuk tegangan rendah menjadi Rp 1.409,16/ kWh dari sebelumnya Rp 1.509,38/ kWh. Sementara, untuk tegangan menengah menjadi Rp 1.007,15/ kWh dari sebelumnya Rp 1.104,73/ kWh. Untuk tegangan tinggi diturunkan menjadi Rp 970,35/ kWh dari sebelumnya Rp 1.059,99/ kWh.

    MAWARDAH NUR HANIFIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.