Di Era MEA, Industri Makanan Yakin Tetap Tumbuh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Dinul Mubarok

    TEMPO/Dinul Mubarok

    TEMPO.CO, Jakarta - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) optimis tahun ini industrinya akan mencatatkan pertumbuhan sekitar 7 persen. Menguatnya daya beli masyarakat di dalam negeri serta kondisi ekonomi global yang menunjukkan perbaikan jadi dasar optimisme. “Kami optimistis bisa tumbuh 7 persen karena pasar di dalam dan luar negeri menguat,” kata Ketua Gapmmi Adhi Lukman di kantor Kementerian Perindustrian, Jumat 8 Januari 2016.

    Adhi juga menyatakan optimisme dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Diakuinya, meski produk impor dari negara-negara tetangga makin mudah dijumpai di pasaran, namun produk Indonesia masih mendominasi. “Kita juga banyak ekspor, tahun lalu nilainya sekitar US$ 456,6 juta,” ujarnya.

    Industri ini juga masih dipandang seksi dan mengundang investasi. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, rencana izin prinsip investasi di sektor makanan dan minuman sepanjang tahun 2015 naik 326 persen atau sebesar Rp 184,92 triliun. Namun, realisasi investasinya hingga semester pertama hanya sebesar Rp 32,6 triliun. “Investasi akan menjadikan basis produksi, bukan sekedar pasar,” kata Adhi.

    Untuk mendorong investasi, menurut Adhi, pemerintah harus serius melihat masalah logistik. Saat ini, biaya logistik di Indonesia masih mencapai 27 persen dari komponen biaya produksi, sementara di Singapura dan Malaysia sudah di bawah 15 persen.

    Tantangan lain bagi industri ini adalah soal pasokan bahan baku yang masih banyak diimpor. Di antarnaya gula dan garam industri yang 100 persen masih impor. Selain itu, ada konsentrat buah dan susu yang 70 persen impor. “Industri untuk barang setengah jadi belum banyak di sini,” katanya.

    Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian Abdul Rochim menyatakan pemerintah akan sangat memperhatikan masukan dari dunia usaha, termasuk industri makanan dan minuman. Tak bisa dipungkiri, sektor industri ini menyumbang 4,73 persen produk domestik bruto Indonesia. Sektor ini juga menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja. “Ini goyah sedikit saja, dampaknya akan besar. Karena itu kita akan jaga betul,” ujarnya.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.