Layani Wilayah Papua PT Pelni Tambah 3 Kapal Perintis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani (dua kiri) dan sejumlah pejabat daerah berjalan meninggalkan dermaga usai meninjau Kapal Perintis Sabuk Nusantara 30 di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Kepri, Selasa (27/12). ANTARA/Henky Mohari

    Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani (dua kiri) dan sejumlah pejabat daerah berjalan meninggalkan dermaga usai meninjau Kapal Perintis Sabuk Nusantara 30 di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Kepri, Selasa (27/12). ANTARA/Henky Mohari

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pelayaran Nasional Indonesia, kini menambah tiga armada kapal perintis untuk melayani masyarakat di Papua.

    Kepala Operasional PT Pelni Cabang Jayapura, Ibrahim, di Jayapura, Jumat (8 Januari 2016), mengatakan, untuk melayani masyarakat di wilayah Papua, ada penambahan tiga kapal perintis ke wilayah pelosok Papua yang tidak dapat dijangkau oleh kapal putih.

    "Tetapi kini, ada penambahan armada kapal perintis. Kapal perintis itu ada tiga, satu sudah di Jayapura dan sementara kita urus perkembangan untuk ke Jakarta,"katanya.

    Menurut dia, kedua kapal perintis kini berada di Sorong, Papua Barat, karena naik dok, sehingga hanya satu kapal perintis yang beroperasi.

    "Dua naik dok dan sementara ada di wilayah Sorong, ketiga kapal tambahan itu, KM Sabuk Nusantara 44, KM Sabuk Nusantara 99, dan KM Papua 4. Itu untuk kapal perintis penambahan,"ujarnya.

    Ia mengatakan, karena jarak tempuh yang pendek sehingga ketiga kapal tersebut hanya melayani wilayah Papua saja.

    "Karena jaraknya tempuh yang pendek sehingga hanya wilayah Papua saja yang dilayani,"katanya.

    Ia menambahkan, ada sebanyak 52 kapal perintis yang diperuntukan untuk beroperasi di wilayah indonesia, dan Papua mendapat tiga kapal perintis.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.