Harga Turun, Pertalite Langka di Sejumlah SPBU Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi  bahan bakar Pertalite. ANTARA/Irsan Mulyadi

    Ilustrasi bahan bakar Pertalite. ANTARA/Irsan Mulyadi

    TEMPO.CO, Jakarta - BBM nonsubsidi jenis Pertalite tengah langka di sejumlah SPBU di Jakarta Selatan.

    Kelangkaan tersebut disayangkan oleh pihak SPBU maupun konsumen yang menggunakan Pertalite.

    "Hari ini sudah puluhan orang yang tanya Pertalite dan saya jawab kosong, sebagian turun isi Premium, yang lainnya mencoba mencari di SPBU lain," kata Wahyudi (28) salah seorang petugas SPBU di Jl. Gandaria 1, Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (7 Januari 2016).

    Wahyudi mengaku bahwa kini ia lebih sering melayani konsumen yang membeli Pertalite ketimbang saat bulan-bulan awal BBM nonsubsidi jenis baru itu diperkenalkan Pertamina pada medio September 2015 silam.

    Ditengarai, BBM nonsubsidi dengan kandungan oktan 90 itu menjadi pilihan bagi masyarakat yang sudah enggan menggunakan BBM bersubsidi namun masih terlalu mahal untuk membeli BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang beroktan 92.

    Hal itu diakui oleh Andi (36) yang kerap menggunakan Pertalite untuk mengisi bahan bakar sepeda motor miliknya.

    "Biasanya memang isi Pertalite, karena itu ke SPBU sini yang memang Pertalite belum semua ada. Tapi karena adanya Premium ya harus turun deh," ujar karyawan sebuah perusahaan swasta itu.

    Berdasarkan pantauan ANTARA News, Kamis, kelangkaan BBM nonsubsidi jenis Pertalite dialami sejumlah SPBU di Jaksel seperti di Jl. RSC Veteran Bintaro, Jl. Arteri Pondok Indah dan Jl. Gandaria 1 Kebayoran Baru.

    Kelangkaan ini terjadi hanya beberapa hari setelah harga jual Pertalite diturunkan oleh Pertamina dari Rp8.200 per liter menjadi Rp7.950 per liter sejak 5 Januari 2016 kemarin.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.