BI: Ini Penyumbang NPL Terbesar di Riau

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang Rupiah. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ilustrasi mata uang Rupiah. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia wilayah Riau menghitung tingkat rasio kredit bermasalah (non performing loan) mencapai level 4,34% pada tahun 2015, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 3,23%.

    Kepala Bank Indonesia Wilayah Riau Ismet Inono mengatakan meningkatnya NPL karena sulitnya perekonimian di sepanjang 2015. Bencana kabut asap dan lambatnyabrealisasi APBD juga menjadi faktor.

    "Perputaran uang di Riau menjadi rendah. Banyak debitur yang menunda pembayaran tagihan kredit," katanya, Kamis (7 Januari 2016).

    Ismet menjelaskan penyumbang NPL terbesar pertama yakni pada sektor jasa dan dunia usaha dengan kontribusi sebesar 8,86%, disusul dengan sektor konstruksi sebesar 8,22%.

    Selain itu, sektor yang mengalami perlambatan ekonomi adalah sektor perkebunan. Dengan turunnya harga komoditas unggulan Riau seperti sawit dan karet membuat pengusaha perkebunan menunggak kredit.

    Berdasarkan aturan dari Bank Indonesia, batasan NPL harus berada di bawah 5%. Dia meminta seluruh stake holder untuk bisa menekan NPL pada tahun ini.

    Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Riau mencapai 5,6% pada tahun 2016 dengan digesanya proyek pembangunan infrastruktur.

    Ismet Inono mengatakan pertumbuhan ekonomi akan lebih membaik dari pada tahun ini. Kondisi perekonomian global sudah mulai membaik dan paket kebijakan ekonomi pemerintah pusat juga berjalan.

    Dia menilai perekonomian Riau akan menunjukkan tren positif pada Semester I/2016. Sejumlah proyek pembangunan infrastruktur akan berjalan. Realisasi ABPD Riau juga diperkirakan akan berjalan dengan cepat mengingat APBD 2015 telah “ketok palu” beberapa waktu yang lalu.

    “Penggelontoran APBD 2016 terhadap proyek infratsruktur akan membuat kredit konstruksi akan tumbuh 15%. Berjalannya proyek-proyek itu akan menyerap tenaga kerja dan perekonomian sektor lain,” kata Ismet.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.