Siapkah Pengusaha Indonesia Hadapi MEA?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi M.E.A. (Masyarakat Ekonomi Asean)/ Asean Economic Community. Emaze.com

    Ilustrasi M.E.A. (Masyarakat Ekonomi Asean)/ Asean Economic Community. Emaze.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah efektif berlaku pada 1 Januari 2016 lalu. Pemerintah telah melakukan pemetaan terkait produk apa saja yang potensial diekspor ke negara-negara ASEAN, di antaranya adalah produk otomotif, makanan olahan dan bahan kimia. Tapi, siapkah pelaku usaha memproduksinya?

    Industri otomotif menunjukkkan optimisme. “Melihat pertumbuhan ekonomi, ekspor mobil tahun depan bisa lebih tinggi,” kata Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Noegardjito saat dihubungi, Rabu 6 Januari 2016.

    Optimisme itu didukung data penjualan mobil yang meski meredup di pasar domestik, namun ekspornya tetap tumbuh. Sepanjang periode Januari – Oktober 2015, ekspor mobil oleh anggota Gaikindo mencapai 183.661 unit atau tumbuh 9,2 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

    Di ASEAN, pasar utama mobil ekspor Indonesia adalah Filipina. Sementara di dunia, ekspor terbanyak kita adalah ke negara Timur Tengah serta Jepang. “Total kita ekspor ke 70 negara,” kata Noegardjito.

    Untuk produk makanan dan minuman, Ketua Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicolas Mendey menyatakan, produk Indonesia punya pasar potensial di Filipina, Thailand dan Malaysia. “Negara-negara ini punya selera yang hampir sama dengan lidah kita,” ujarnya, Rabu, 6 Januari 2016.

    Soal kecocokan selera itu sudah dibuktikan dengan masuknya beberapa jaringan restoran waralaba seperti J-Co dan Es Teler 77. Bahkan, jaringan ritail Alfamart juga sudah memiliki seratusan gerai di Filipina. “Dari situ kita pelajari, makanan dan minuman olahan kita juga diterima, termasuk jamu,” kata Roy.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.