Kontrak Proyek Gedung pada 2016 Diprediksi Tumbuh Tipis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat maket perumahan  dalam pameran Real Estate Indonesia di Jakarta, 5 Mei 2015. Penjualan properti tahun ini diprediksi menurun 50 persen dibanding tahun sebelumnya. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pengunjung melihat maket perumahan dalam pameran Real Estate Indonesia di Jakarta, 5 Mei 2015. Penjualan properti tahun ini diprediksi menurun 50 persen dibanding tahun sebelumnya. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kalangan kontraktor memproyeksikan pertumbuhan kontrak konstruksi di sektor  bangunan gedung pada 2016 masih relatif rendah seiring keputusan sejumlah pengembang yang masih akan menahan laju pembangunan proyek properti baru.

    Sekretaris Jenderal Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) Zali Yahya mengatakan, pertumbuhan di sektor properti selama 2015 relatif lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dalam pembicaraan bersama sejumlah pelaku usaha di bidang properti, tuturnya, ada indikasi sejumlah pengembang masih akan menahan diri untuk mengembangkan proyek-proyek baru di 2016, khususnya sektor perkantoran dan apartemen.

    Hal tersebut tentu turut berimbas bagi prospek usaha kalangan kontraktor, terutama yang mengandalkan proyek-proyek dari sektor bangunan gedung. Meski belum memiliki data yang akurat, tetapi menurutnya sejumlah pelaku usaha masih melihat peluang pertumbuhan kontrak bangunan gedung masih akan rendah sepanjang 2016.

    “Pertumbuhan bukan tidak ada atau menurun, tetapi berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dengan sendirinya itu menyebabkan besaran pasarnya juga berkurang. Itu proyeksi 2016 berdasarkan pembicaraan dengan kalangan yang berkompeten,” katanya kepada Bisnis.com, Rabu (6 Januari 2015).

    Menurutnya, rendahnya pertumbuhan juga dipacu oleh moratorium yang ditetapkan pemerintah Jokowi-JK bagi pembangunan gedung perkantoran baru dengan dana APBN atau APBD. Pembangunan gedung melalui dana pemerintah hanya difokuskan pada rumah susun, bukan perkantoran.

    Meski demikian, menurutnya kebijakan tersebut secara umum cukup baik untuk menekan penggunaan anggaran negara dan mendorong pemanfaatan gedung-gedung perkantoran yang sudah ada secara lebih efektif dan efisien.

    Di sisi lain, Asosiasi Aspal dan Beton Indonesia (AABI) menilai prospek dunia konstruksi 2016 relatif cukup cerah bila dibandingkan dengan 2015. Meski belum dapat melaju kencang, pertumbuhan sektor kontruksi 2016 diyakini akan lebih tinggi.

    Ketua Umum AABI Zulkarnain Arief mengatakan, penyerapan material beton untuk bangunan gedung akan kembali pulih di 2016 setelah cukup terpukul di 2015. Selain itu, investasi infrastruktur pemerintah yang akan mulai bergulir sejak Januari 2016 diyakini akan memberikan efek berantai bagi sektor lainnya untuk bertumbuh.

    “Berbagai kebijakan yang sudah dikeluarkan pemerintah juga akan memberi prospek yang cerah, berbeda dengan tahun kemarin,” katanya saat dihubungi terpisah.

    Selain itu, era Masyarakat Ekonomi Asean yang telah dimulai pun menurutnya akan cukup merangsang geliat pertumbuhan sektor properti Indonesia mulai tahun ini, terutama karena masuknya pemain asing untuk berinvestasi. Di tahun-tahun mendatang, pertumbuhan sektor properti diyakini akan kembali melaju kencang.

    “Tahun ini ada peluang yang baik sektor properti untuk mulai tumbuh dan penyerapan beton dan material lainnya juga akan tumbuh,” katanya.
    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.