Fadli Zon: 3 Kunci Sektor Pertanian Hadapi MEA  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia), Setya Novanto (tengah) Wakil Ketua DPR Fadli Zon (kanan) dan Wakil Ketua DPR Agus Hermanto (kiri) usai bertemu Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, 5 November 2015. Tempo/ Aditia Noviansyah

    Ketua DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia), Setya Novanto (tengah) Wakil Ketua DPR Fadli Zon (kanan) dan Wakil Ketua DPR Agus Hermanto (kiri) usai bertemu Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, 5 November 2015. Tempo/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Tahun 2016 penuh tantangan bagi sektor pertanian, satu di antaranya mulai efektifnya implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kata Wakil Ketua DPR Fadli Zon terkait dengan kesiapan dalam menghadapi MEA, terutama di sektor pertanian.

    “Saya mendorong pemerintah memastikan kesiapan sektor pertanian menghadapi MEA. Kata kuncinya adalah daya saing. Jika komoditas pertanian tidak punya daya saing, Indonesia akan dibanjiri produk luar dan hanya menjadi pasar,” tuturnya dalam laman dpr.go.id.

    Lebih lanjut Fadli Zon mengatakan ada tiga hal lain yang juga perlu diperhatikan sektor pertanian. Pertama, regulasi, baik pusat maupun daerah, yang pro-pertanian. Kedua, infrastruktur pertanian di sentra produksi. Ketiga, program pembinaan.

    Di sisi lain, politikus Partai Gerindra ini menyampaikan bahwa tantangan lain hadir dari faktor alam, seperti perubahan iklim serta perubahan pola curah hujan yang sering kali mengakibatkan kekeringan dan banjir. Ia menegaskan, kedua tantangan tersebut penting untuk diantisipasi dengan strategi mitigasi dan adaptasi.

    “Kita harus belajar dari kejadian 2015. Jika tidak, bukan hanya kualitasnya yang tidak ada daya saing, tapi juga kuantitasnya akan berkurang signifikan,” ucapnya.

    “Pemerintah harus serius dalam pengembangan desa penangkar benih, terutama di luar Jawa. Desa, dengan dana APBN, harus dapat menjadi pemenuh kebutuhan usaha tani terhadap benih untuk berproduksi sehingga roda perekonomian desa berputar semakin lancar," ucapnya.

    Fadli Zon, yang juga Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, mengatakan permasalahan klasik distribusi pupuk harus dituntaskan. TNI-Polri, dengan kemampuan utama yang dimiliki, perlu dilibatkan dalam pengawasan serta penindakan hukum dalam distribusi pupuk sehingga tidak langka, harga terjangkau, dan tepat waktu.

    “Posisi mengawasi distribusi pupuk di lapangan menjadikan TNI-Polri tepat guna dan semakin mendukung upaya khusus (upsus) pemerintah di sektor pertanian menjadi tepat. Dengan menyentuh masalah mendasar, sektor pertanian bisa lebih siap lagi menghadapi MEA,” katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.