Pertumbuhan Ekonomi 2016, Jokowi: Kuncinya Optimistis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi (tengah) menjawab pertanyaan wartawan saat meninjau Pasar Lokal Keyabi di Kabupaten Nduga, Papua, 31 Desember 2015. Rusman/Setpres

    Presiden Jokowi (tengah) menjawab pertanyaan wartawan saat meninjau Pasar Lokal Keyabi di Kabupaten Nduga, Papua, 31 Desember 2015. Rusman/Setpres

    TEMPO.COJakarta - Presiden Joko Widodo mengakui pertumbuhan ekonomi 2015 berkisar antara 4,7 persen hingga 4,8 persen. "Turun sedikit dibandingkan 2014 yang sebesar 5 persen," katanya saat membuka perdagangan saham di Jakarta, Senin, 4 Januari 2016.

    Jokowi menganggap pencapaian pertumbuhan tersebut lebih baik dibanding negara lain. "Coba dilihat negara-negara lain, yang turun sampai 1,5 persen, ada yang turun sampai 3 persen, dan turun sampai 1 persen. Kita hanya 0,03 persen," kata Jokowi sembari menambahkan raihan pertumbuhan ekonomi 2016 akan berbeda jika masyarakat optimistis.

    Menurut Jokowi, optimisme itu sulit muncul jika banyak pihak mengambil sikap menunggu (wait and see). Karena itu, di tahun 2016 Jokowi mengajak semua pihak lebih optimistis. "Semua harus percaya, optimistis bahwa kita akan lebih baik. Itu kuncinya." 

    Jokowi juga mengatakan inflasi pada 2015 hanya 3,3 persen, lebih rendah dari tahun sebelumnya 8,3 persen. Capaian tersebut karena kerja keras Bank Indonesia dan pemerintah. "Waktu kita pasang di bawah 5 persen, banyak orang tidak percaya. Alhamdulillah, pada 2015 hanya 3,3 persen."

    Pemerintah, Presiden Jokowi mengatakan, selalu melihat pasokan dan permintaan barang setiap hari. "Bapak dan Ibu boleh bertanya kepada Mendag, Kabulog, Mentan, bagaimana tengah malam, subuh saya telepon kalau ada berita harga beras baru akan naik, saya suruh cari siapa yang timbun," katanya.

    ALI HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.