MEA Berlaku Hari Ini, 30 Persen Rakyat Indonesia Belum Paham  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok Solidaritas Perempuan Indonesia membawa poster Tolak MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dalam aksi memperingati hari Ibu di depan Istana Negara, Jakarta, 22 Desember 2015. Kebijakan MEA yang akan diberlakukan pada akhir 2015 membuat persaingan tenaga kerja semakin ketat. TEMPO/Amston Probel

    Kelompok Solidaritas Perempuan Indonesia membawa poster Tolak MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dalam aksi memperingati hari Ibu di depan Istana Negara, Jakarta, 22 Desember 2015. Kebijakan MEA yang akan diberlakukan pada akhir 2015 membuat persaingan tenaga kerja semakin ketat. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.COJakarta - Peneliti Ekonomi bidang Ekonomi Internasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Panky Tri Febiyansyah mengatakan kurang dari 30 persen masyarakat belum paham konsepsi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ini diambil dari penelitian yang dilakukan LIPI terhadap sekitar 2 ribu responden di 16 provinsi.

    "Kesimpulan kami, pemerintah terlambat melakukan sosialisasi. Kami meneliti 2.300 responden di 16 provinsi dengan sistem random, baik pengusaha maupun masyarakat, setelah itu kriteria profesi, dan dengan mendatangi asosiasi sambil melakukan pengamatan," kata Panky saat dihubungi Tempo, Jumat, 1 Januari 2016.

    Panky menilai pemerintah terlambat melakukan sosialisasi. Meskipun begitu, ia mengapresiasi sosialisasi yang dilakukan. "Tetapi tidak secara sungguh-sungguh, karena ketika kami masuk dalam masyarakat sendiri, umum, bisnis, pengusaha, dan pedagang, mereka tidak paham. Tidak tahu juga MEA itu apa, manfaatnya apa," kata Panky.

    Menurut dia, ini menjadi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi negara tujuan untuk barang dan pengusaha negara ASEAN lain. "Kita hanya menjadi basis tujuan dari barang mereka, kita hanya jadi pasar. Itu yang jadi masalah," ujarnya.

    Ia mengatakan memasuki MEA di 2016 ini, pemerintah harus melakukan sosialisasi dari tingkat atas ke tingkat daerah. "Tujuannya agar terjadi akselerasi agar pemda pun aware bahwa di MEA ada mobilitas skill labor, dan bagaimana investasi dari ASEAN itu mengalir," katanya.

    Ia mengkhawatiran posisi Indonesia hanya bisa menjadi konsumen tanpa diimbangi produksi. "Perdagangan MEA dengan tarif nol tentu akan berpengaruh pada barang di daerah. Logika sederhananya bila lebih murah, UKM setempat akan lewat," tuturnya.

    ARKHELAUS W


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perolehan Kursi DPR Pemilu 2019, Golkar dan Gerinda di Bawah PDIP

    Meski rekapitulasi perolehan suara Golkar di Pileg DPR 2019 di urutan ketiga setelah PDIP dan Gerindra, namun perolehan kursi Golkar di atas Gerindra.