Papua Miliki 7 Bandara Tahun Depan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perluasan bandara. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi perluasan bandara. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.COJakarta - Pemerintah menargetkan pembangunan empat bandar udara baru di Papua pada 2017. Dengan demikian, Papua memiliki tujuh bandara baru setelah pemerintah membangun tiga bandara pada tahun ini.

    Keempat bandara tersebut, kata Direktur Bandar Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Agus Santoso, adalah Werur, Temberau, Segun, dan Nabire Baru. "Bandara di Papua ini prioritas karena di sana sulit pembangunan jalan," katanya saat ditemui di rumah dinas Menteri Perhubungan di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Ahad, 3 Januari 2016.

    Daerah Papua terdiri atas banyak pegunungan sehingga moda transportasi yang dapat menjangkau berbagai pelosok wilayah adalah melalui udara. Pemerintah, kata Agus, menambah jumlah bandara setiap tahun agar daerah terpencil dapat terlayani oleh pesawat perintis. Saat ini jumlah bandara di Indonesia mencapai 54 unit.

    Agus mengatakan saat ini pembangunan keempat bandar udara tersebut sedang dalam persiapan konstruksi, yakni proses pengerjaan tanah, seperti perataan (cutting). Dia berharap pada Oktober 2017, keempat bandara tersebut dapat beroperasi. Dana investasi keempat bandara diperkirakan masing-masing Rp 400 miliar. Pembiayaan bandara tersebut menggunakan dana APBN dengan skema tahun jamak. 

    Tidak seperti Bandara Biak yang dikelola Angkasa Pura, staf khusus Menteri Perhubungan bidang keterbukaan informasi Hadi M Djuraid mengatakan semua bandar udara di Papua dikelola pemerintah. 

    Desember tahun lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan terminal baru, yakni Bandar Udara Wamena dan Bandar Udara Kaimana. Jokowi juga meninjau proyek pembangunan Bandara Domine Eduard Osok Sorong, Papua Barat, yang saat ini progres pembangunannya mencapai 99 persen. Agus mengatakan pada pertengahan Februari 2016 Bandara Sorong dapat beroperasi.

    ALI HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.