Harga Sawit Diprediksi Melorot Tahun Ini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelapa sawit. REUTERS/Roni Bintang

    Kelapa sawit. REUTERS/Roni Bintang

    TEMPO.COJakarta - Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menyatakan industri sawit masih akan menghadapi tantangan berat tahun ini. ”Tantangan itu terutama dari segi harga,” kata Ketua Umum DMSI Derom Bangun, Ahad, 3 Januari 2016.

    Derom menyatakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tahun ini tak akan lebih dari US$ 650 per metrik ton. Penyebabnya adalah harga minyak dunia yang terus merosot. “Harga minyak bumi sekarang kecenderungannya sudah di bawah US$ 35 per barel, maka harga bahan bakar lain akan ikut merosot,” tuturnya.

    Ia menjelaskan, turunnya harga minyak bumi akan membuat negara maju mengurangi konsumsi biofuel. Dengan begitu, penyerapan minyak nabati untuk bahan bakar akan berkurang. Akibatnya, produksi minyak nabati, termasuk yang berasal dari sawit, rapeseed, biji bunga matahari, hingga kedelai, hanya akan terserap untuk kebutuhan pangan. Turunnya permintaan inilah yang diprediksi bakal menekan harga.

    Bagaimanapun, Derom optimistis secara umum industri minyak sawit nasional tetap bertahan. Alasannya, penggunaan biodiesel di Indonesia akan semakin besar bila program pencampuran biodiesel hingga 20 persen (B20) mulai dijalankan tahun depan. “Karena itu, pemerintah harus konsisten menerapkan program ini,” ujarnya.

    Tantangan lain yang akan dihadapi industri sawit Indonesia adalah iklim. Cuaca panas akibat El Nino tahun lalu diprediksi akan berdampak menyusutnya volume buah sawit pada masa panen tahun ini. “Akibatnya, produksi CPO ada kemungkinan akan turun sekitar 500 ribu ton,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono. Meski, penurunan itu tak terlalu signifikan mengingat produksi CPO tahun lalu mencapai sekitar 33 juta ton.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.