Liburan Tahun Baru, Wapres Borong Kerajinan Kulit Sleman  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kiri) bersama Ibu Mufidah Kalla (keempat kanan) melihat produk kulit saat berkunjung ke industri kerajinan kulit

    Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kiri) bersama Ibu Mufidah Kalla (keempat kanan) melihat produk kulit saat berkunjung ke industri kerajinan kulit "Bucini-M Joint Exclusif Leather" di Dusun Klodangan, Sendangtirto, Berbah, Sleman, DI Yogyakarta, 1 Januari 2016. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden M. Jusuf Kalla bersama istrinya, Mufidah Kalla, mengisi waktu liburan tahun barunya dengan mengunjungi kerajinan kulit Bucini-M Joint Exclusif Leather di Dusun Klodangan, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 1 Januari 2016.

    Dalam kunjungan tersebut Wapres Kalla mengajak rombongan sebanyak lima bus, termasuk Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi dan Menteri Koodinator Perekonomian Sofyan Jalil.

    Dalam kesempatan tersebut Jusuf Kalla melihat-lihat produk kerajinan kulit dan sempat membeli beberapa produk, seperti tas dan sepatu.

    Begitu juga dengan Mufidah Kalla, yang juga Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), menyempatkan berbelanja sejumlah produk kerajinan kulit.

    Dalan kesempatan tersebut Wapres Kalla tampak akrab dengan para cucu-cucunya, bahkan beberapa kali mendapat ciuman para cucu.

    Mufidah Kalla mengatakan dirinya berbelanja beberapa produk sebagai oleh-oleh bagi para saudaranya.

    "Beli beberapa tas untuk oleh-oleh, dan buat ipar-ipar," katanya.

    Pemilik Bucini-M Joint Exclusif Leather, Rico Yudi Asmoro, mengatakan tempat kerajinan miliknya ini sudah dua kali dikunjungi Mufidah Kalla.

    "Belum lama ini Ibu Mufidah juga ke sini, ini yang kedua kalinya. Beberapa waktu lalu Ibu Negara Iriana Joko Widodo juga pernah berkunjung di sini," katanya.

    Ia mengatakan industri kerajinan kulit tersebut dirintisnya sejak 1997, dan awalnya hanya membuat dompet kulit.

    "Dulu hanya bikin dompet, tetapi sekarang sudah memproduksi tas dan sepatu," katanya.

    Menurut dia, produk kerajinannya lebih banyak diekspor ke Eropa, terutama Belanda, sedangkan untuk pemasaran lokal hanya sedikit saja.

    "Dulu saya pasarkan di lokal, ternyata tidak laku, Kemudian, saya coba membuka pasar ekspor, ternyata permintaan justru bagus," katanya.

    Rico mengatakan dengan memperkerjakan 160 karyawan rata-rata produksi satu bulan bisa mencapai 4.500 tas dan sepatu.

    "Harga jual bervariasi, antara Rp 200 ribu hingga Rp 2 juta untuk sepatu, dan tas harga termurah Rp 600 ribu," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.