Akhir Tahun, Perputaran Uang di Jawa Tengah Rp 2,62 Triliun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi uang rupiah. ANTARA/M Agung Rajasa

    Ilustrasi uang rupiah. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.COJakarta - Perputaran uang di Provinsi Jawa Tengah dalam kurun satu bulan mendekati akhir tahun mencapai Rp 2,62 triliun. Jumlah itu meningkat 48,26 persen dibanding pada Desember 2014. 

    “Peningkatan perputaran uang di masyarakat itu didorong meningkatnya kebutuhan uang tunai masyarakat menjelang libur Natal dan tahun baru,” kata Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Ananda Pulungan, Jumat, 1 Januari 2016.

    Ananda menjelaskan, tingginya perputaran uang di masyarakat itu lebih besar dibanding aliran uang kartal yang masuk Bank Indonesia yang hanya naik sedikit dibanding tahun lalu, yakni 22,2  persen per tahun, menjadi Rp 1,39 triliun.

    “Hal ini juga mengindikasikan adanya peningkatan kegiatan ekonomi pada akhir tahun 2015,” katanya.

    Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah mencatat terjadi peningkatan kegiatan penarikan uang kartal dari Bank Indonesia menjelang akhir tahun. Menurut dia, perbankan menjaga likuiditasnya dalam menghadapi libur akhir tahun, salah satunya dengan cara menjaga ketersediaan uang di mesin-mesin ATM.

    Rata-rata kegiatan penarikan uang oleh beberapa bank besar naik hingga 90 persen ketimbang bulan sebelumnya. Meski begitu, Ananda menyatakan peningkatan kebutuhan uang tunai pada akhir 2015 tidak sebesar kebutuhan uang tunai pada masa menjelang Idul Fitri pada Juli 2015, yang tercatat mencapai Rp 4,99 triliun.

    Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Jawa Tengah Jam Jam Zamachsyari menyatakan tingginya perputaran uang memasuki akhir tahun itu sudah dirasakan sejak November oleh petani. Hal itu dibuktikan dengan nilai tukar petani di Jawa Tengah yang naik sejak November 2015. “Kenaikan nilai tukar petani mencapai 0,56 persen, dari posisi 101,5 menjadi 102,07,” ucapnya.

    Menurut dia, peningkatan nilai tukar petani itu terjadi karena perubahan indeks harga yang diterima petani relatif sama dengan perubahan indeks harga yang dibayar petani. “Indeks yang dibayar meningkat 0,98 persen dari  121,57 pada Oktober 2015 menjadi 122,76 pada November 2015,” katanya.

    Ia menjelaskan, indeks harga yang dibayar petani naik 0,41 persen, dari posisi 119,77 menjadi 120,27. 

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.