2016, Harga CPO dan Karet Masih Berpotensi Turun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buruh mengumpulkan getah hasil sadapan dikawasan perkebunan karet PTPN XII desa Mumbulsari, Jember, Selasa (19/7). Ratusan buruh karet yang menyadap dan mengumpulkan getah karet ini mendapatkan upah harian sebesar 17 ribu hingga 21 ribu. Masa rontok daun pohon karet membuat jumlah produksi karet diperkebunan ini mengalami penurunan. TEMPO/Fully Syafi

    Buruh mengumpulkan getah hasil sadapan dikawasan perkebunan karet PTPN XII desa Mumbulsari, Jember, Selasa (19/7). Ratusan buruh karet yang menyadap dan mengumpulkan getah karet ini mendapatkan upah harian sebesar 17 ribu hingga 21 ribu. Masa rontok daun pohon karet membuat jumlah produksi karet diperkebunan ini mengalami penurunan. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Serikat Petani Indonesia Henry Saragih memprediksi beberapa komoditas pertanian masih mengalami penurunan harga di pasar internasional tahun ini. Terutama untuk harga karet yang diprediksi masih sulit untuk merangkak naik.

    Menurut Henry, Indonesia masih mengandalkan beberapa komoditas pertanian untuk kepentingan ekspor, seperti kopi, sawit, dan karet. Namun di akhir 2015 harga beberapa komoditas, seperti karet dan sawit, terus merosot.

    Menurut Henry, harga karet akan terus merosot di 2016 ini. Pasalnya, dari sisi luasan, perkebunan karet di Indonesia masih kalah saing dibandingkan negara tetangganya. Saat ini Kamboja, Myanmar, dan Laos misalnya, melakukan pendekatan comparative advantage. "Negara-negara tersebut telah menanam ribuan hektare karet."

    Sawit juga, menurut Henry, akan mengalami persaingan yang cukup berat di 2016. Pasalnya saat ini sudah banyak negara yang ikut menanam sawit.

    Turunnya harga, Henry melanjutkan, merugikan petani karena kedua komoditas ini masih menjadi andalan. "Jangan kira karena ekspor tinggi petani kita diuntungkan, sebenarnya petani kita tengah tertekan," kata Henry saat dihubungi di Jakarta, Jumat, 1 Januari 2016.

    Henry menawarkan solusi, yakni untuk berfokus pada produksi dalam negeri. Namun produksi harus berdasarkan kemampuan dalam negeri. "Jangan sampai pakai benih dari luar negeri," ujarnya.

    Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor karet dari Januari hingga Oktober 2015  mengalami penurunan. Harga karet di Oktober mencapai US$ 1.418 juta, turun 16 persen dibandingkan periode sama tahun lalu senilai US$ 1.702 juta.

    MAWARDAH NUR HANIFIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.