Resmi Masuk Pasar MEA, Pengamat: Jangan Boros Belanja

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung emosi saat antri membeli Handphone murah dari Smart di gerai penjualan di Jl. Pengayoman, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (5/2). Peluncuran Hp dan Kartu Smart seharga Rp. 88 ribu tersebut disambut antusias wargta. Tempo/Fahmi Ali

    Pengunjung emosi saat antri membeli Handphone murah dari Smart di gerai penjualan di Jl. Pengayoman, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (5/2). Peluncuran Hp dan Kartu Smart seharga Rp. 88 ribu tersebut disambut antusias wargta. Tempo/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Perencana keuangan dari Finansia Consulting, Eko Endarto, mengatakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bisa dilihat dari sisi ancaman dan peluang. Ancamannya, kata dia, sebagian besar perbankan atau bunga investasi dikuasai asing, maka kondisi ekonomi ditentukan mereka.

    "Peluangnya, alternatif investasi lebih banyak, seperti tempat dan produknya," kata Eko saat dihubungi Tempo, Jumat, 1 Januari 2016. Ia menjelaskan, ketika MEA terjadi, negara kita terbuka. Maka kita bisa berkonsumsi dengan cara yang lebih mudah.

    Namun negatifnya, lanjut dia, kita bisa lupa berinvestasi dan hanya berkonsumsi. "Hati-hati. Karena MEA, yang merebut uang dari kantong kita jadi lebih banyak," katanya.

    Menurut Eko, sebelum MEA, masyarakat lebih banyak berbelanja dari Indonesia. Sekarang, barang-barang luar negeri juga masuk. Sehingga keinginan konsumsi tinggi. "Jangan mikir konsumsi, jadi tidak memikirkan investasi. Nanti bisa menambah utang," ujarnya.

    Hari ini, Indonesia resmi memasuki era MEA. Barang dan jasa dari seluruh negara anggota ASEAN akan lebih bebas untuk masuk ke Indonesia, begitu juga sebaliknya. Ekspor barang dan jasa Indonesia ke negara-negara tersebut lebih bebas. Nantinya, kawasan perdagangan bebas ini akan diperluas ke Cina, Jepang, dan Korea Selatan.

    REZKI ALVIONITASARI | PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.