Wapres Dukung BEI Jaring Lebih Banyak Emiten Melalui IPO  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beberapa pialang dan trader berfoto selfie dalam penutupan lantai bursa di Jakarta, 30 Desember 2015. Ini merupakan penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di posisi 4.593,01 poin. TEMPO/Tony Hartawan

    Beberapa pialang dan trader berfoto selfie dalam penutupan lantai bursa di Jakarta, 30 Desember 2015. Ini merupakan penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di posisi 4.593,01 poin. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.COJakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mendukung Bursa Efek Indonesia menyiapkan serangkaian inisiatif yang difokuskan pada empat area utama pengembangan BEI, yakni menambah jumlah emiten, memperkuat peran anggota bursa, meningkatkan jumlah investor, serta menyempurnakan reputasi Bank Indonesia. 

    Mengenai penambahan jumlah emiten, Jusuf Kalla memandang penting bagi perusahaan yang ingin berkembang untuk dapat melakukan penawaran umum perdana saham atau IPO. "IPO mempunyai dua fungsi, untuk rising fund atau menambah modal dan ada transparansi. Kalau ada transparansi, perusahaan akan lebih baik dibanding perusahaan yang tertutup," kata Jusuf Kalla di Bursa Efek Indonesia pada Rabu, 30 Desember 2015.

    Hingga akhir perdagangan bursa di tahun 2015, Bursa Efek Indonesia telah mencatat sebanyak 16 perusahaan baru sejak Januari sampai Desember 2015. Namun, jika dibandingkan dengan tahun lalu, penambahan jumlah emiten mengalami penurunan karena tahun kemarin BEI mencatatkan 23 perusahaan yang melakukan pelepasan saham perdana atau IPO dan 1 perusahaan melakukan relisting. 

    Enam belas perusahaan tersebut adalah PT Bank Yudha Bakti Tbk. (BBYB), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT PP Properti Tbk (PPRO), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT), PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC), PT Binakarya Jaya Abadi Tbk (BIKA), PT Bank Harda International Tbk (BBHI), PT Victoria Insurance Tbk (VINS), PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT), PT Dua Putra Makmur Tbk (DPUM), PT Ateliers Mecaniques D’Indonesie Tbk (AMIN), PT Indonesia Pondasi Raya Tbk (IDPR), dan PT Kino Indonesia Tbk (KINO).

    Selain mencatat perusahaan baru, BEI mencatat 2 perusahaan yang melakukan relisting, yaitu PT Mitra Energi Persada Tbk (KOPI) dan PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK). Di sisi lain, tercatat juga 1 reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (Exchange Traded Funds/ETF), yaitu Reksa Dana Premier ETF Indonesia State-Owned Companies (XISC). 

    Total dana yang berhasil dihimpun pada periode Januari hingga Desember 2015 sebesar Rp 57,70 triliun, yang terdiri atas IPO sebesar Rp 11,31 triliun, rights issue sebesar Rp 45,57 triliun, dan waran sebesar Rp 824 miliar. Pada 2015, BEI juga telah menghapuskan pencatatan saham (delisting) milik 3 perusahaan tercatat, yaitu PT Davomas Abadi Tbk (DAVO), PT Bank Ekonomi Raharja Tbk (BAEK), dan PT Unitex Tbk (UNTX).

    DESTRIANITA K.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.